Tampilkan postingan dengan label Pengalaman Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengalaman Hidup. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Maret 2018

Kisah Seorang Kawan Lama


Cerita ini pernah saya dengar saat kuliah di Entrepreneur University, cerita tentang pertemuan dua orang kawan lama yang bisa kita ambil pelajaran untuk meraih sukses.

Seorang kawan hendak menemui kawan lamanya dan mereka janjian ketemu di rumah kawannya di pinggir sebuah danau. Singkat cerita setelah berbincang lama di teras rumah, sang kawan mengajak mancing di danau. Dengan sebuah perahu mereka berdua menuju ke tengah danau dengan membawa peralatan pancing.

Sejam dua jam mancing dan waktunya makan siang, sang kawan bilang kalau dia lupa membawa makanan dan hendak mengambil makanan ke rumah. Sang kawanpun hap dan meloncat dari perahu dan tap tap berjalan di atas air menuju pinggir danau! Kawan yang di perahupun terheran-heran dan ternganga melihat pemandangan tersebut. Dan tidak lama kemudian sang kawanpun kembali ke perahu dengan cara yang sama, berjalan di atas air! Betapa sakti teman ini, pikirnya. Bagaimana caranya orang bisa berjalan di atas air, heran dan takjub menyelimuti hatinya.

Merekapun makan dan kembali meneruskan memancing tanpa bicara sepatah katapun. Entah karena gengsi atau karena apa. Tak lama mereka memancing, dari pinggir danau terdengar suara orang memanggil nama sang kawan. Rupanya kawan karib sang kawan memanggil dari pinggir danau, dan sang kawanpun memberi isyarat agar ikut bergabung memancing, dan tap tap orang yang baru datang inipun berjalan di atas air mendekati perahu dan hap meloncat ke perahu. Semakin heran dan ternganga kawan ini melihat kejadian yang dilihatnya. Bagaimana bisa orang-orang ini bisa berjalan di atas air? mereka orang-orang sakti, pikirnya.

Melihat keheranan temannya ini, sang kawan dengan senyum menjelaskan kalau mereka berdua ini sering melewatkan waktu dengan mancing di danau, sedangkan bagaimana mereka bisa berjalan di atas air, sang kawan menjelaskan bahwa karena seringnya mereka memancing di danau tersebut mereka jadi hapal posisi batu-batu yang ada di bawah permukaan air walaupun tidak terlihat, sehingga mereka mudah melompat dari batu ke batu lain. Wow...itu rahasianya! bukan karena mereka sakti atau sejenisnya.

Jalan Sukses
Tidak ada jalan pintas untuk meraih kesuksesan. Seseorang harus belajar mengenali dirinya dan di luar dirinya dengan baik, berproses dan berpraktik dengan baik, maka kesuksesan adalah hal yang sangat mungkin dan tidak mustahil walau awalnya terlihat mustahil. Dan kesuksesan bukan diperoleh karena aji-aji kesaktian atau kemampuan supranatural yang tidak bisa kita tiru. Kita bisa meniru kesuksesan seseorang asal kita menemukan "guru" dan dengan sungguh-sungguh mengikuti prosesnya. Mari kira ubah kata-kata Impossible menjadi I'm Possible.


Minggu, 24 Januari 2016

Berprasangka Baik kepada Allah SWT.

Belum lama berkecimpung di dunia kehumasan di Kemenristek, Allah kembali memindahkan saya ke bagian lain yang sama sekali baru bahkan tidak terbayang sebelumnya, yaitu bagian terkait pendidikan tinggi di republik ini. Setelah Kemenristek merger dengan Ditjen Dikti menjadi Kemenristekdikti, nasib saya termasuk yang berubah. Tiba-tiba saja setelah struktur baru jadi, saya terpental dari "keluarga" Ristek masuk ke Dikti.

Bismillah, la haula wa la kuwwata illa billah....semua atas kehendak-Nya lewat tangan kekuasaan orang-orang yang entah karena apa atau tidak suka dengan kiprah saya di humas Ristek. Kepada yang tidak suka dan tidak menginginkan saya tetap di humas, kepadanya tetap saya ucapkan terima kasih! sungguh! karena jasa "buruk" merekalah saya berproses lagi di tempat yang baru, belajar lagi dan belajar lagi. Berkat merekalah saya mendapatkan "berkah" lain yang tidak disangka-sangka. Dan terlepas dari skenario "buruk" merakalah Allah banyak membuka pintu rizki-Nya dari mana saja yang tidak disangka-sangka.Walaupun awalnya dari niat "buruk" ternyata Allah memiliki rencana lain, rencana yang lebih baik.

Flash back, dulu waktu saya di instansi sebelum Ristek, hal yang sama juga saya alami. Berkat jasa "buruk" seseorang di level pimpinan dan segelintir orang di tata usaha, karir saya dihambat dan dikacaukan. Namun berkat kesabaran, hanya menyandarkan kepada Allah semata segala urusan, dan menjadikan Allah sebagai penolong, maka hasil jerih payah mereka men-setting kekacauan karir saya akhirnya Allah kacaukan juga dengan memberi jalan saya keluar menuju Ristek dan berkarir di sana sampai saya dipindahkan ke dikti ini. (Baca: Menanti Jawaban dari Langit)

Segala rencana terbaik adalah kepunyaan Allah semata, berprasangka baik kepada Allah menjadikan segala yang kita alami bisa dianggap sebagai nikmat dan berkah, sehingga hanya ada ucapan syukur alhamdulillah terhadap apapun yang terjadi dan mengembalikan segalanya atas kehendak-Nya. Dengan demikian kita akan selalu berpikiran positif kepada Allah dan manusia yang lain. Positif thinking insya Allah  menyehatkan pikiran dan jiwa kita dalam mengarungi kehidupan sehari-hari.

Kamis, 25 April 2013

Menanti Jawaban dari Langit

Alhamdulillah tahun ini saya diberikan Allah nikmat berkesempatan melakukan ibadah umroh dan sekaligus menapak tilasi situs-situs bersejarah yg dulu ketika masa kecil sering saya baca dari buku pelajaran tarikh islam dan sering dengar ceritanya dari para ustadz saya di kampung. 

Kesempatan yg sangat spesial dalam hidup saya terlebih karena datangnya pada saat saya mendapatkan terlalu banyak kenikmatan dari Allah SWT dan adanya "kegundahan" yg turut mengantar kepergian umroh saya. Ini adalah umroh syukuran dan sekaligus pengantar doa untuk memohon jawaban atas "kegundahan" dalam hidup saya.

Momen pertama yang mengharukan adalah ketika bisa melihat dari dekat dan melambaikan tangan sambil mengucap shalawat ketika melewati pintu pusara Rasulullah SAW berdesakan dengan ratusan bahkan ribuan orang di masjid Nabawi. Tidak terkirakan rasa haru ketika saya merasakan bahwa orang istimewa yg terbaring di pusara di depan mata saya adalah nabi junjungan saya selama ini, nama nabi yg sering saya sebut-sebut namanya baik saat shalat maupun dalam kendaraan, nabi yg sejarah lahir dan perjuangan sampai akhir hayatnya saya hampir hapal sejak kecil. Mengucap shalawat berbarengan dengan ribuan orang sambil berjalan dan menatap pintu keemasan pusara beliau rasanya melayang di awang-awang, haru biru rasanya!.

Di salah satu sudut raudhah yang mustajab (tempat antara kamar pusara nabi dan mimbar di masjid Nabawi), saya mendapatkan kesempatan tiga kali bersimpuh, sholat dan berdoa. Dan diantara doa yg saya panjatkan adalah memohon diberikan petunjuk atas pilihan jalan terbaik untuk masa depan "penghidupan" keluarga saya, sumber rezeki keluarga saya. Ya, karena selama ini jalan rizki keluarga kami masih "mendua", antara karyawan dan entrepreneur.

Momen kedua yg mengharukan adalah ketika saya bisa menatap dari dekat Ka'bah asli, bukan gambar atau rajutan yg selama ini biasa saya lihat di dinding tembok rumah atau di ujung sajadah waktu sholat. Ini Ka'bah asli...nyata! hitam kokoh, gagah dan penuh wibawa. Dan Alhamdulillah di tempat-tempat mustajab di sekitar Ka'bah (multazam dan hijr Isma'il) dengan izin dan pertolongan Allah saya kembali bisa mendapatkan tempat untuk bermunajat memohon sekali lagi dan sekali agar diberikan jalan terbaik atas penghidupan keluarga saya.

Semoga doa-doa yg saya panjatkan di tempat-tempat mustajab di Madinah dan Makkah, Allah berkenan mengabulkan dan diberikan tanda-tanda-Nya sehingga saya bisa menangkap dan mengikutinya dengan keyakinan dan keimanan. Amin Allahumma Amin.

Rabu, 15 Februari 2012

Sumber Kebahagiaan

Sebuah pemberian ternyata memberikan sensasi emosional tersendiri dan ini yg dinamakan kebahagiaan spiritual. Sebuah kebahagiaan yg kita rasakan bukan ketika kita menerima sesuatu tetapi sebaliknya ketika kita memberikan sesuatu. Tak heran matapun bisa berkaca-kaca dan bahkan dada serasa penuh bahkan bisa sampai terisak-isak sendiri. Tangisan bahagia!

Sumber kebahagiaan hakiki adalah dari dalam diri kita sendiri (internal) bukan dari luar diri kita (eksternal), semakin jauh orang berlari mencari kebahagian maka yg didapati adalah kehampaan. Banyak orang berlomba mencari materi dan kekuasaan lalu mengira dengan limpahan materi dan aneka jabatan yg disandang maka kebahagiaan akan datang menyertainya, namun ternyata malah menjadi beban hidupnya dan akhirnya semakin jauh dari kebahagiaan. Maka tak heran banyak orang kaya dan terkenal hidupnya berakhir dengan tragis, mati bunuh diri atau mati karena overdosis obat, tercatat nama Hitler, Elvis Presley, Michael Jackson dan terakhir penyanyi bersuara emas Whitney Houston mati karena campuran aneka obat penenang.

Kebahagiaan berasal dari dalam diri sendiri bisa timbul ketika kita mensyukuri apa2 nikmat yg sudah kita peroleh dan kemudian merefleksikannya dalam sikap hidup sehari-hari, tidak banyak mengeluh dan sering menyempatkan diri berbagi atas apa yg sudah diperolehnya. Berbagi nikmat sama halnya dengan pupuk yg terus menyuburkan dan menumbuhkembangkan rasa bahagia kita. Maka barangsiapa suka memberi dan berbagi dijamin hidupnya akan bahagia.


Sempatkan berbagi dari hal yg kecil kalau bisa disetiap memulai hari, semoga dampaknya bisa kita dapati berupa keceriaan dan keberkahan sepanjang hari! Amin.


Tulisan ini penulis buat setelah mengalami pagi emosional karena bahagia bisa memberi orang makan di pagi buta. Ceritanya ketika mau berangkat kantor saya lihat ada kekek renta yg lusuh (baca: gelandangan bukan orang gila) yg duduk setengah bersandar di dekat bak sampah rumah tetangga, spontan saya ambilkan sepaket makanan dan lauknya yg saya namakan "paket cinta untuk sesama". Bahagianya luar biasa! berangkat kerja dengan mata berbinar dan sedikit berkaca-kaca serta dada serasa penuh sesak! apalagi ketika mengingat sekilas wajah dan tatapan mata  penuh misteria dari sang kakek. Selamat makan pak! semoga engkau tabah dan kuat menjalani hidup, semoga saya bisa setabah dan sekuat bapak. Amin.

Kamis, 21 Juli 2011

Berbagi Pengalaman

Kata-kata yg sering kita dengar terkait dengan pengalaman seseorang adalah masih bau kencur alias kurang pengalaman, atau sudah mumpuni karena sangat berpengalaman. Pendek kata pengalaman adalah hal utama dalam menilai kapabilitas seseorang. Dalam hal dunia kerja, pengalaman kerja selalu ditanyakan pada sesi wawancara penerimaan karyawan, yg masih fresh graduate biasanya tersisih gara-gara masalah pengalaman ini.

Pengalaman terbagi menjadi 2, yaitu pengalaman kuantitatif dan kualitatif.  Pengalaman kuantitatif mengacu pada durasi dan frekuensi kejadian  sebagai parameternya. Lamanya seseorang menekuni pekerjaannya dan bertemu dengan banyak karakter orang menunjuk pada pengalaman kuantitatif, pengalaman yg masih perlu dipertanyakan kualitasnya. Seseorang bertahun-tahun mengalami pekerjaan rutin dan hanya itu-itu saja, diulang-ulang tiap hari tiap bulan dan tiap tahun, berpengalaman secara kuantitatif tapi miskin pengalaman kualitatif.

Seseorang dengan usia lebih tua namun pengalaman hidupnya hampir berulang tanpa ada dinamika, bertemu dengan orang-orang yg sama hampir setiap harinya, dibandingkan dengan seseorang yg lebih muda namun dalam kehidupannya sangat dinamis, bertemu beragam orang yg sarat pengalaman dan berbagi dengannya, maka pantas saja disebut anak muda ini jauh berpengalaman dibanding orang pertama tadi.

Pengalaman kualitatif lebih menunjuk pada interaksi seseorang dengan sebuah pengalaman, merujuk pada pembelajaran dan pemahaman. Boleh jadi seseorang mengalami kejadian yg sama dengan orang lain, namun pengalamannya bisa jadi berbeda. Satu orang memaknainya, menangkap pengalaman sebagai bahan pembelajaran sementara yg lainnya mengabaikan saja dan menganggap sebagai kejadian biasa. Pengalaman kualitatif akan memperkaya seseorang dalam menjalani kehidupannya, membimbing dan terus menyinari jalan hidup seseorang untuk sebuah kesuksesan.

Pengalaman bersifat personal, pengalaman satu orang bisa sangat berbeda dengan yg lainnya walau dengan hal yg sama sekalipun. Seseorang harus mengalaminya sendiri, tidak bisa pengalaman seseorang bisa dirasakan orang lain walau dengan cara apapun kita menceritakannya. Sensasinya pasti beda dengan mengalaminya sendiri. Namun apakah dengan begitu pengalaman tidak bisa di-share dengan orang lain? bisa saja sebagai arahan dan acuan, misalnya kalau begini akan begitu dan kalau begitu akan begini atau bisa begitu. Pendek kata seseorang harus mengalaminya sendiri, tapi untuk hal-hal yg baik. Kalau untuk hal-hal negatif, seperti pengalaman korupsi, selingkuh dll. cukup dipercayai saja tanpa kita harus membuktikannya, karena sudah pasti pengalaman banyak orang mengacu pada ending yg tidak layak kita jalani.

Berbagi pengalaman, dalam hal pengalaman baik, adalah alat pemercepat untuk mendapatkan pengalaman kualitatif.  Bersilaturrahim sebagai sarana sharing pengalaman bisa diartikan sebagai ajang menambah pengalaman, alias menambah panjang usia. Pengalaman seseorang selama bertahun-tahun bisa kita serap dalam 2-3 jam, bukankah artinya usia kita sebenarnya jadi semakin panjang?

Ayo jangan sungkan berbagi pengalaman, silaturrahim.