Selasa, 21 Februari 2012

Takdir vs Mimpi


" Peliharalah visi dan impian anda, karena mereka anak-anak jiwa anda dan
rancangan pencapaian terbesar anda"

( Napoleon Hill, penulis ternama AS dengan salah satu bukunya berjudul
"Think and Grow Rich", laku 20 juta copy)

Memelihara mimpi dan menjaganya tetap menyala sangatlah penting karena
tanpa mimpi sebenarnya kita hanya ada secara "wadhag" namun sudah mati
karena tanpa jiwa lagi. Sekecil apapun mimpi kita, mimpi itulah yg membuat
kita mau terus berjuang dan bertahan hidup.

Antara takdir dan impian tidaklah saling berkutuban, keduanya adalah
sejalan. Kita tidak tahu takdir kita sampai takdir itu benar-benar
terjadi, selama belum terjadi masih ada peluang untuk berusaha dan terus
mengejar mimpi kita, apapun! Kerena tidak ada yg tahu apa-apa yg akan
terjadi pada diri kita dan rencana kita, maka teruslah mengejar mimpi
sampai takdir itu datang meng-amini rencana kita.

Kisah nyata, seorang office boy bisa menjadi seorang pengusaha kaya, siapa
sangka? andai dia saat itu hanya menyakini bahwa takdirnya adalah menjadi
seorang OB selamanya, maka takdirnya adalah jadilah benar adanya, namun
karena dia memiliki mimpi maka dikejarlah mimpi itu. Dia berusaha
menyisihkan gajinya dan mulai berjualan ayam bakar di emperan toko malam
hari dan singkat cerita karena keuletannya, takdir itu datang dalam wajah
lain, takdir perubahan! gerainya ayam bakarnya hampir di seluruh kota ada,
dia adalah Mas Mono dengan ayam bakar masmono-nya.
(http://ayambakarmasmono.wordpress.com/).

Kisah seperti Mas Mono di atas sebenarnya sangat banyak sekali, sebut saja
Ciputra yg pinjam ayam tetangga, Bob Sadino yg jualan telor, atau Ibu Susi
Pudjiastuti pemilik Susi Air yg dulunya bakul ikan di Pangandaran, atau agak
keluar negeri, siapa sangka Kol. Sanders setelah pensiun dari tentara
malah jualan ayam goreng? siapa yg tidak tahu KFC? Kisah-kisah di atas
adalah bukti bahwa sebelum takdir itu benar-benar terjadi maka berusahalah
mengejar mimpi dan begitu tercapai itulah takdir yg akhirnya diketahui.
Siapa yg tahu takdir kita?

Dalam realita, boleh jadi kita adalah para "abdi dalem" yg menjadi
sub-ordinat sebuah entitas yg "takdir"-nya ditentukan dari atasan, namun
urusan mimpi adalah urusan pribadi dan bukan urusan atasan kita. Mimpi
bisa jadi sangat bebas bahkan sangat "liar". Mimpi bukanlah sebuah barang
kasat mata, mimpi tidak dibatasi sekat-sekat apalagi jam kerja. Maka
bermimpilah kawan! dan jangan lupa kejar sampai dapat, masih ingat saat
mengejar layang2 putus? ya seperti itulah! tanpa lelah dan tanpa takut
gagal!

Salam Entrepreneur!

Rabu, 15 Februari 2012

Sumber Kebahagiaan

Sebuah pemberian ternyata memberikan sensasi emosional tersendiri dan ini yg dinamakan kebahagiaan spiritual. Sebuah kebahagiaan yg kita rasakan bukan ketika kita menerima sesuatu tetapi sebaliknya ketika kita memberikan sesuatu. Tak heran matapun bisa berkaca-kaca dan bahkan dada serasa penuh bahkan bisa sampai terisak-isak sendiri. Tangisan bahagia!

Sumber kebahagiaan hakiki adalah dari dalam diri kita sendiri (internal) bukan dari luar diri kita (eksternal), semakin jauh orang berlari mencari kebahagian maka yg didapati adalah kehampaan. Banyak orang berlomba mencari materi dan kekuasaan lalu mengira dengan limpahan materi dan aneka jabatan yg disandang maka kebahagiaan akan datang menyertainya, namun ternyata malah menjadi beban hidupnya dan akhirnya semakin jauh dari kebahagiaan. Maka tak heran banyak orang kaya dan terkenal hidupnya berakhir dengan tragis, mati bunuh diri atau mati karena overdosis obat, tercatat nama Hitler, Elvis Presley, Michael Jackson dan terakhir penyanyi bersuara emas Whitney Houston mati karena campuran aneka obat penenang.

Kebahagiaan berasal dari dalam diri sendiri bisa timbul ketika kita mensyukuri apa2 nikmat yg sudah kita peroleh dan kemudian merefleksikannya dalam sikap hidup sehari-hari, tidak banyak mengeluh dan sering menyempatkan diri berbagi atas apa yg sudah diperolehnya. Berbagi nikmat sama halnya dengan pupuk yg terus menyuburkan dan menumbuhkembangkan rasa bahagia kita. Maka barangsiapa suka memberi dan berbagi dijamin hidupnya akan bahagia.


Sempatkan berbagi dari hal yg kecil kalau bisa disetiap memulai hari, semoga dampaknya bisa kita dapati berupa keceriaan dan keberkahan sepanjang hari! Amin.


Tulisan ini penulis buat setelah mengalami pagi emosional karena bahagia bisa memberi orang makan di pagi buta. Ceritanya ketika mau berangkat kantor saya lihat ada kekek renta yg lusuh (baca: gelandangan bukan orang gila) yg duduk setengah bersandar di dekat bak sampah rumah tetangga, spontan saya ambilkan sepaket makanan dan lauknya yg saya namakan "paket cinta untuk sesama". Bahagianya luar biasa! berangkat kerja dengan mata berbinar dan sedikit berkaca-kaca serta dada serasa penuh sesak! apalagi ketika mengingat sekilas wajah dan tatapan mata  penuh misteria dari sang kakek. Selamat makan pak! semoga engkau tabah dan kuat menjalani hidup, semoga saya bisa setabah dan sekuat bapak. Amin.

Selasa, 13 September 2011

Oleh-oleh Lebaran 2011 Part 2

Moment mudik kali ini saya membawa banyak misi, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang hanya bermaksud silaturrahim saja dengan keluarga besar baik di Ujung Pangkah maupun di Kediri. Misi penting lainnya adalah mengenali lagi potensi daerah dan mengembangkannya dengan sedikit sentuhan teknologi terkini agar didapatkan hasil yang lebih baik.

Potensi Ujung Pangkah, Gresik
Di daerah saya lahir ini, potensi hasil laut berupa ikan dan udang windu di masa lalu sangat melimpah, pendek kata kehidupan para petambak udang sangatlah makmur, berhaji rombongan sekeluarga tiap tahun adalah biasa, menyekolahkan anak sampai ke luar negeri adalah biasa saja apalagi cuma kuliah di kota-kota besar sekitar, tapi keadaan itu sekarang sudah berubah. Menurut ayah saya, sudah sepuluh tahun terakhir keadaan ekonomi di daerah saya menurun drastis, tambak udang banyak gulung tikar karena benur sering mati sebelum jauh di panen , pernah ganti varietas udang vename tapi juga gagal. Akhirnya yg tersisa hanya budidaya ikan bandeng saja dengan hasil yg masih belum memuaskan karena antara hasil panen dan modal yg keluar tidak jauh berbeda alias untung tipis.

Komoditas lain berupa sarang burung walet juga sama saja, sarang walet yg menjadi andalan sudah jauh berkurang hasilnya, dulu satu rumah bisa mendapatkan 2-3 kg sekali panen (3-4 bulan) dengan harga 15jtan/kg sekarang hanya tinggal hitungan 1/4 kg sekali panen. Pendek kata keadaan makin sulit, kehidupan terlihat stagnan alias mandeg malah cenderung turun kualitasnya, hal ini bisa dilihat secara kasat mata dari bangunan2 rumah penduduk yg tidak banyak berubah bahkan malah banyak yg mulai rusak dibiarkan tanpa renovasi, bahkan anak-anak muda banyak yg sulit melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi tidak seperti masa saya dulu.

Eksploitasi yg berlebihan di masa lalu dengan pupuk buatan yg berlebihan diduga menjadi biang keladi kegagalan demi kegagalan para petambak, pupuk dan aneka jenis pelet yg tersisa bisa jadi telah meracuni tanah dan air tambak petani. Apalagi ditambah dengan cuaca dan musim yg tidak menentu, komplitlah masalah yg dihadapi para petambak disamping isu pencemaran akibat penambangan gas di pantai dekat Ujung Pangkah.

Merehabilitasi tanah tambak adalah langkah awal dan pengenalan budidaya perikanan baru seperti budidaya penggemukan kepiting, kepiting soka, lobster air tawar maupun ikan nila adalah langkah selanjutnya agar masyarakat tetap bergairah untuk bertambak. Dari hasil pengamatan selama mudik lebaran, budidaya penggemukan kepiting dan kepiting soka (soft shell crab) sudah berjalan dan cukup berhasil di beberapa tambak. Budidaya lobster belum ada sedangkan ikan nila pernah ada di beberapa tambak dan berhasil, namun karena investornya tidak melanjutkan sewa tambaknya  budidaya ikan nila akhirnya berhenti.

Khusus untuk ikan nila, prospek budidaya ini cukup cerah asalkan dibudidayakan dengan teknologi yg tepat, untuk itu saya berusaha memperkenalkan benih nila yg sudah di-screening secara genetika sehingga didapat benih dengan sifat-sifat unggul yg nantinya diharapkan seragam hasilnya baik bentuk maupun besaran fisiknya atau beratnya saat dipanen. Perkara memperkenalkan teknologi baru bukanlah hal mudah untuk masyarakat desa, oleh karena itu saya berusaha memperkenalkannya terlebih dahulu kepada petani tambak yg terdidik, karena saya yakin mereka bisa cepat menerimanya dan akan menjadi pioneer dalam masa pengembangan nantinya. Proposal sudah dibuat dan diajukan, tinggal menunggu approved! Semoga sukses.

Potensi lain adalah pengembangan aneka produk hasil olahan ikan, selama ini yg sudah berkembang adalah aneka krupuk, mulai dari krupuk udang dan ikan mulai KW1 sampai KW5, yg terakhir yg sedang naik daun adalah keurupuk beton dengan bentuk bulat-bulat berbahan ikan payus, hanya saja masih industri rumahan dan hanya melayani pesanan bukan produksi massal dengan sistem pemasaran yg baik. Sama juga dengan produk lain, semisal otak-otak bandeng dan bandeng tanpa duri, masih skala rumahan dan order pesanan saat ada event tertentu. Potensi ini layak digarap dengan serius dan perlu perhatian perangkat desa dan kecamatan setempat untuk dibina dan dikembangkan, sehingga ekonomi masyarakat akan tumbuh kembali dengan lebih baik karena disokong oleh industri pengolahan makanan berbasis hasil tambak dan laut yg dulunya belum pernah ada. Di sinilah diperlukan pemimpin selevel kepala desa yg berwawasan maju dan berjiwa kewirausahaan yg baik.


Senin, 12 September 2011

Oleh-oleh Lebaran 2011 Part 1

Pulang kampung nih! begitu kata Obama saat ke Jakarta beberapa waktu yang lalu, begitu juga saya sekeluarga, mudik ke Jawa Timur (Gresik dan Kediri) saat Lebaran 2011. Banyak hal yg bisa saya lihat dan rasakan selama libur lebaran kali ini, melihat dari dekat dan berusaha mengikuti irama kehidupan masyarakat di luar  Jakarta dalam keseharian, terutama masyakat desa dan kota kecil di Jawa Timur.

Blak-blakan!
Kalau ada iklan kartu selular yg memiliki tema blak-blakan dalam bicara mungkin tepat dialamatkan kepada sikap bicara orang pantai seperti di daerah tempat saya lahir di pantai utara Jawa Timur tepatnya di kecamatan Ujung Pangkah-Gresik. Tidak ada yg ditutupi dalam bersikap, tanpa "tedheng aling-aling" alias tanpa basa-basi atau sungkan bicara di depan orang lain, spontan alias ceplas-ceplos, positifnya adalah tidak ada sikap maupun omongan yg dipendam dalam hati, semuanya lepas saat itu juga, spontan dan tidak ada maksud lain selain mengatakan apa adanya, selesai saat itu juga, ada kesatuan kata dan ekspresi, tidak munafik! namun susahnya kalau masyarakat dari daerah lain yg belum terbiasa dengan sikap bicara blak-blakan ini jadi agak runyam, seperti istri saya sendiri yg rada halus gaya bicaranya, jadilah saya sebagai "penenang" dan "penerjemah" maksud dari ucapan-ucapan para tetangga dan saudara-saudara saya yg blak-blakan tsb. Alhamdulillah sekarang istri saya sudah terbiasa dan sangat mengerti gaya bicara blak-blakan daerah saya.

Konon sikap terbuka masyarakat pantai inilah yg awalnya bisa menerima budaya-budaya baru yg datang di nusantara ini, mudah berinteraksi dengan budaya dan bangsa lain yg berdagang saat itu sehingga pantai-pantai nusantara seperti Pasai di Aceh dan Tuban di Jawa Timur termashur kala itu sebagai pelabuhan dagang besar di dunia, hanya sayang sekali sikap terbuka ini dimanfaatkan secara negatif oleh segelintir bangsa penjajah untuk pijakan mencengkeram nusantara ratusan tahun.

Sikap blak-blakan tanpa bermuka dua itulah yg secara positif (perlu sedikit dimodifikasi) perlu dikembangkan dalam cara berkomunikasi saat ini, orang harus terbuka sikapnya, antara hati, sikap dan perbuatan sama dan sebangun, tidak ada yg ditutup-tutupi dengan maksud-maksud tersembunyi, tidak ada lempar batu sembunyi tangan! tidak ada sikap diam atau manthuk-manthuk di forum namun di luar forum beda sikap dan suara seperti tejadi di aneka forum rapat saat ini, mulai dari rapat RT sampai sidang paripurna DPR!

Nol detik
Serba cepat dan buru-buru itulah ciri khas aktifitas di kota besar seperti di Jakarta, berjalan cepat-cepat, berkendaraan cepat-cepat tak peduli kanan kiri, saling serobot dari motor butut sampai mobil mewah. Memburu waktu! itulah alasannya dengan berbagai bungkus kegiatan. Beda sekali sewaktu saya berada di daerah, waktu seakan beku tak berdetak bahkan "menghilang" dan mebuat saya hampir tidak tahu hari apa hari ini apalagi besoknya. 

Orang-orang beraktifitas kalem saja, santai saja tidak ada yg kelewat nafsu di jalanan, bahkan saking kalemnya, di Kediri, setelah lampu lalu lintas hijaupun kendaraan masih saja "enggan" cepat-cepat berjalan, pelan saja, karena bawaan dari Jakarta saya jadi kesal dan uring-uringan sendiri melihat sikap kendaraan di depan saya, jadilah saya ikut pelan dan menahan diri daripada jadi aneh sendiri. Akhirnya daripada seringkali kesal di jalan, sayapun mengalah, jadi ikut tenang, mencoba mengikuti irama yg ada dan sebisa mungkin menikmati keadaan, siapa tahu saat-saat seperti ini setidaknya setahun sekali bisa merefresh beban pikiran selama hidup di Jakarta.

Waktu seakan beku sementara waktu, nol detik! tidak ada yg peduli tentang waktu saat itu, kecuali waktu-waktu sholat tentunya. Perasaan tenang dan lapang, semuanya lepas dari kungkungan rutinitas. Waktu seolah jadi milik pribadi yg bisa disetel sesukanya, kira-kira seperti sang pemilik waktu walau tak sepenuhnya!

Selamat Idul Fitri 1432H Mohon Maaf Lahir dan Batin

Senin, 15 Agustus 2011

Anakku Tertular Virus!

Kaget dan bercampur haru, anakku pertama yg baru masuk kelas satu esempe pagi ini bikin geger batin saya. Dia bilang "tak terasa sudah kelas satu esempe, sebentar lagi esema lalu kuliah lalu jadi PENGUSAHA!" wow...sontak saya terkejut dengan ucapannya. Saya kaget dengan pola pikirnya yg sudah tidak kayak ayahnya dulu yg PNS...atau embahnya dulu yg tentara, padahal dia termasuk anak yg cerdas, hasil UN di atas 9 dan masuk esempe negeri favorit di Jakarta Timur masuk pula kelas RSBI dengan pengajar native dari negeri Paman Sam seminggu sekali. Wow...anak saya tertular virus entrepreneur saya. Alhamdulillah! semoga terkabul nak, doa saya dalam hati.

Memang mengejutkan, ketika anak seusianya belum memikirkan masa depan yg jauh dia sudah memendam dan mengekspresikannya dengan tanpa keraguan dan tanpa sungkan-sungkan, seolah dia yakin dengan menjadi pengusaha hidupnya akan nyaman atau sukses menurut pemikirannya. Mindset anak saya sudah terbentuk, mindset pengusaha bukan karyawan atau pegawai tanpa keterpaksaan, terpola karena lingkungannya, apa yg dia lihat dan dia dengar selama ini.

Bagaimana ini bisa terjadi? lingkungan yg membuat mindsetnya terpola seperti itu. Ada yg sengaja saya selipkan pesannya lewat kebiasaan kecil yg menyenangkan a.l setiap ada event pameran usaha atau pameran UKM entah itu di JHCC, Balai Kartini atau di gedung SMESCO saya suka hadir, saya ajak anak istri menikmati pameran tsb. bagaimana anak jadi senang? disamping banyak mainan tradisonal dan hasil kerajinan yg bisa mereka lihat dan beli, sering juga sembari saya melihat-lihat peluang usaha dan aneka hasil usaha UKM senusantara, anak-anak saya ajak ke konter-konter usaha kuliner yg menyediakan aneka makanan dan minuman tester gratis! anak-anak mencoba aneka makanan dan minuman tester dengan riang gembira sembari saya selingi aneka pertanyaan pada para sales konter. Nah, dari sini anak-anak mendengar dan melihat aneka peluang usaha dengan segala suka citanya, aneka keuntungan yg bisa diperoleh bagi para pengusaha, hampir tidak ada sales yg bercerita kegagalan atau kerugian usahanya, jual kecap pasti bilang kecapnya nomer satu!

Keadaan lain yg membentuk, memang orang tuanya berprofesi "jualan",  hampir pasti sering ada kegiatan "jualan"  yg dilihat dan didengar langsung anak saya, misalnya ketika ada pesanan besar, maka saya libatkan anak-anak dalam membantu pekerjaan kecil-kecil, mulai dari melipat kertas , merapikan box makanan dll. sambil bermain, malah ketika di warung, anak-anak sering main kasir-kasiran dengan senang, terkadang juga saya ajarkan cara melayani pelanggan, mengucapkan "terima kasih" pada pelanggan. Pendek kata mereka ikut sedikit terlibat dalam bisnis tanpa terasa karena sambil bermain.

Faktor lain yg ikut membentuk adalah pelatihan bisnis sejak dini. Jangan heran kalau anak saya dua-duanya punya bisnis sampingan sambil sekolah, sejak SD kelas 3, anak yg pertama yg sekarang esempe lebih senang membawa aneka produk izziprint seperti gantungan kunci dan pin untuk dijual ke teman-temanya, mereka setor foto dan jadilah pin atau gantungan kunci. Untuk usahanya ini saya berikan komisi 15% dan lumayan bisa buat tambahan beli makanan favoritnya, anak saya ini senang makan enak di resto dan bagusnya dia sadar untuk hobinya itu dia bisa cari sendiri pembiayaannya, semakin dia ingin makan enak semakin semangat jualan!

Lain halnya dengan anak yg kedua yg sekarang kelas 5, senangnya menjual pernak-pernik/asesoris dan foto artis. Asesoris dia beli di toko yg temannya tidak tahu lokasinya, dia cari yg unik dan menarik lalu dijual dengan mengambil margin keuntungan lumayan. Pernah dia pulang sekolah murung, rupanya dia ditegur sama guru kelasnya karena jualan di kelas dan bikin riuh suasana karena teman-temanya berebut barang dagangannya! Tapi tidak kapok, dia sampai sekarang jualan lagi! itulah bagusnya, mental pengusaha yg sejak dini tergembleng keadaan. Sekarang ini dia lagi senang mencetak aneka foto para pesohor kecil yg lagi digandrungi teman-temannya, seperti Justin Bieber, dia setengah mati cari di internet aneka posenya dan dicetak, kemudian dia jual pada teman-temannya, sekarang ini aneka foto Smash dan biografinya dicetak, semalam merengek minta dibuatkan semacam kartu Smash yg ada fotonya dan biodatanya, kadang bikin capek juga tapi sudahlah demi melatih anak-anak menjadi pengusaha. Kebiasaan konsumtif anak-anak yg 100% sikapnya "membeli" sudah mulai terimbangi dengan sikap produktif, itu kabar baiknya, anak-anak sejak dini tidak punya rasa segan dan enggan apalagi malu untuk "berjualan", malah kegiatan ini dilakukan dengan senang hati dan memacu kreativitas anak, tentu saja kegiatan yg sesuai dengan kesenangan anak seumurnya, beda dengan anak-anak pedangan asongan yg menjual rokok dll. yg tidak pas dagangannya dengan usianya dengan motif ekonominya yg kental dan bukan motif pendidikan mental pengusaha sejak dini.

Menjadikan anak pengusaha bukan berarti pendidikan diabaikan, saya tetap tekannya bahwa tetap harus sekolah yg baik, karena pendidikan jadi landasan terbaik kegiatan atau profesi apapun di masa depannya. Tetap punya cita-cita yg baik, misalnya menjadi arsitek cita-cita anak saya yg kedua, tapi bukan jadi karyawan alias tukang gambar terus-terusan selama hidupnya! arsitek yg punya perusahaan sendiri, mengambar bisa dilakukan karyawannya dan dia tahu dan bisa menilai hasil kerja karyawannya karena sudah punya ilmu arsitektur juga, penting agar tidak dilecehkan karyawannya, itu yang saya bilang. Atau anak pertama saya ingin menjadi dokter, bagaimana dengan cita-citanya menjadi pengusaha? ya dokter tapi yg punya rumah sakitnya atau paling kecil poliklinik sendiri, tidak menyuntik sendiri setiap pasien sampai pensiun dan gemetaran, yg kerja biar dokter-dokter muda saja dia jadi direkturnya!

Begitulah kekagetan saya pagi ini, alhamdulillah bukan karena hal yg buruk tapi insyaallah yg terbaik yg saya yakini sampai sekarang, nabi sendiri adalah seorang pedagang, istrinya seorang saudagar, begitu juga dengan para sahabat seperti Utsman yg seorang milyarder. Saya berharap dengan kekuatan ekonominya, seseorang bisa berperan lebih terhadap agama dan bangsanya. Indonesia sampai sekarang baru ada sekitar 0.8% penduduknya yg jadi pengusaha, padahal harusnya minimal 8% dari totalnya penduduknya seperti negara-negara maju contohnya negeri kecil mungil Singapura. Tak terbanyangkan, kalau virus entrepreneur ini cepat menular di lingkungan kita, ke depan, anak-anak kita, begitu lulus kuliah sudah punya perusahaan yg bisa menghidupi saudara-saudara lain sebangsa yg masih kurang beruntung, dengan demikian tidak ada lagi cerita TKI kita tersiksa dan telantar di negeri orang, bangsa kita akan kuat dan mandiri, diperhitungkan negara-negara lain bukan dihina dan dilecehkan. Tidak ada lagi cerita pilu seperti Ruwiyati yg dipancung di Arab, tidak ada lagi cerita penggalangan dana untuk Darsem yg akhirnya malah disalahgunakan untuk membeli aneka barang konsumtif, cerita yg melukai banyak orang.

Selamat datang entrepreneur baru...silahkan berperan walau hanya punya satu orang karyawan saudara dekat atau anak tetangga. Tak terbayang 5  juta PNS punya usaha semua walau kecil-kecilan, dapat sedikit tapi bermanfaat dan berkah, tidak ada lagi PNS yg ngarang-ngarang dinas atau ngentit barang kantor atau dapat komisi sembunyi-sembunyi seperti bang Gayus, atau malak rakyat kecil kayak satpol PP, atau cari kuitansi-kuitansi bodong. Sungguh beruntung  yg segera memulainya, tidak usah menunggu setelah pensiun sudah punya kegiatan usaha yg halal dan berkah.

Selamat datang kawan!

Kamis, 21 Juli 2011

Berbagi Pengalaman

Kata-kata yg sering kita dengar terkait dengan pengalaman seseorang adalah masih bau kencur alias kurang pengalaman, atau sudah mumpuni karena sangat berpengalaman. Pendek kata pengalaman adalah hal utama dalam menilai kapabilitas seseorang. Dalam hal dunia kerja, pengalaman kerja selalu ditanyakan pada sesi wawancara penerimaan karyawan, yg masih fresh graduate biasanya tersisih gara-gara masalah pengalaman ini.

Pengalaman terbagi menjadi 2, yaitu pengalaman kuantitatif dan kualitatif.  Pengalaman kuantitatif mengacu pada durasi dan frekuensi kejadian  sebagai parameternya. Lamanya seseorang menekuni pekerjaannya dan bertemu dengan banyak karakter orang menunjuk pada pengalaman kuantitatif, pengalaman yg masih perlu dipertanyakan kualitasnya. Seseorang bertahun-tahun mengalami pekerjaan rutin dan hanya itu-itu saja, diulang-ulang tiap hari tiap bulan dan tiap tahun, berpengalaman secara kuantitatif tapi miskin pengalaman kualitatif.

Seseorang dengan usia lebih tua namun pengalaman hidupnya hampir berulang tanpa ada dinamika, bertemu dengan orang-orang yg sama hampir setiap harinya, dibandingkan dengan seseorang yg lebih muda namun dalam kehidupannya sangat dinamis, bertemu beragam orang yg sarat pengalaman dan berbagi dengannya, maka pantas saja disebut anak muda ini jauh berpengalaman dibanding orang pertama tadi.

Pengalaman kualitatif lebih menunjuk pada interaksi seseorang dengan sebuah pengalaman, merujuk pada pembelajaran dan pemahaman. Boleh jadi seseorang mengalami kejadian yg sama dengan orang lain, namun pengalamannya bisa jadi berbeda. Satu orang memaknainya, menangkap pengalaman sebagai bahan pembelajaran sementara yg lainnya mengabaikan saja dan menganggap sebagai kejadian biasa. Pengalaman kualitatif akan memperkaya seseorang dalam menjalani kehidupannya, membimbing dan terus menyinari jalan hidup seseorang untuk sebuah kesuksesan.

Pengalaman bersifat personal, pengalaman satu orang bisa sangat berbeda dengan yg lainnya walau dengan hal yg sama sekalipun. Seseorang harus mengalaminya sendiri, tidak bisa pengalaman seseorang bisa dirasakan orang lain walau dengan cara apapun kita menceritakannya. Sensasinya pasti beda dengan mengalaminya sendiri. Namun apakah dengan begitu pengalaman tidak bisa di-share dengan orang lain? bisa saja sebagai arahan dan acuan, misalnya kalau begini akan begitu dan kalau begitu akan begini atau bisa begitu. Pendek kata seseorang harus mengalaminya sendiri, tapi untuk hal-hal yg baik. Kalau untuk hal-hal negatif, seperti pengalaman korupsi, selingkuh dll. cukup dipercayai saja tanpa kita harus membuktikannya, karena sudah pasti pengalaman banyak orang mengacu pada ending yg tidak layak kita jalani.

Berbagi pengalaman, dalam hal pengalaman baik, adalah alat pemercepat untuk mendapatkan pengalaman kualitatif.  Bersilaturrahim sebagai sarana sharing pengalaman bisa diartikan sebagai ajang menambah pengalaman, alias menambah panjang usia. Pengalaman seseorang selama bertahun-tahun bisa kita serap dalam 2-3 jam, bukankah artinya usia kita sebenarnya jadi semakin panjang?

Ayo jangan sungkan berbagi pengalaman, silaturrahim.

Rabu, 20 Juli 2011

Menjadi Lilin

Ada yg bilang, ini sulit! aturan yg abu-abu dan kebiasaan yg sudah mendarah daging dan hampir dijalankan oleh semua orang, sadar ini memang salah tapi bagaimana cara memperbaikinya? Keadaan begitu serba samar-samar dan tidak jelas lagi. Pendek kata tidak ada acuan yg jelas, mulai dari bawahan sampai atasan polahnya tidak ada bedanya, karena semua sama-sama berada pada ruangan yg gelap!

Harus ada yg memulainya, tapi siapa?
"Zaman edan, kalau tidak ikut edan tidak akan kebagian!" itulah sebait kata pujangga dan peramal Ronggowarsito (http://id.wikipedia.org/wiki/Ronggowarsito) mengenai keadaan atau zaman edan yg kita sedang lalui dan rasakan sekarang ini. Tidak semua edan alias gila, kata saya dalam hati. Saya yakin masih banyak yg belum gila betulan dan masih bisa disembuhkan.

Memulai dari sendiri tak mudah tapi harus dimulai. Tak mudah membenahi keadaan yg sudah carut marut di lingkungan kita, kita selalu berharap orang lain berubah dan memulainya, padahal jelas orang lain juga begitu, menunggu orang lain berubah. Lantas kapan ada perubahan? memulai dari diri sendiri adalah kata kuncinya! jelas berat, apalagi untuk memulai dari diri sendiri terkadang dan bahkan seringkali diri kita sendirilah korban awalnya.

Seperti sebuah lilin yg terbakar di ruangan gelap, bisa menerangi ruangan sekitar walau temaram dengan diri sendiri ikut terbakar dan habis karenanya. Keberanian yg jelas harus diacungi jempol bukan malah dikucilkan dan dianggap aneh dan gila. Jelas harus ada yg memulainya, syukur alhamdulillah orang lain sadar dan tergugah ikut rawa-rawe rantas malang malang putung, lilin kecil saja mau dan berani berkorban menjadi pelita di kegelapan malam, apalagi kalau yg punya lampu petromax berani menampakkan jati dirinya, maka teranglah ruangan yg selama ini gelap gulita ,tak jelas dan samar-samar, mana yg benar mana yg salah, mana yg halal mana yg haram.

Membawa rizki untuk keluarga sungguh bernilai ibadah karena sesuai syariah, namun patutkah membawa pulang rizki subhat  alias abu-abu untuk dimakan anak istri kita? nilai ibadahnya pasti berkurang atau  bisa jadi hilang, hanya tinggal nilai ekonominya saja dan yg pasti nilai keberkahannya tidak ada. Rizki yg berkah itulah yg seharusnya kita bawa pulang ke rumah walau sedikit, karena keberkahan membawa kebahagiaan baik di dunia maupun akhirat. Amin.

Selamat menjadi lilin di antara gelapnya malam, mulai sekarang juga.
Semoga ikhlas dan sabar.