Minggu, 25 Februari 2018

Berdiri di Pundak Para Raksasa

Berdiri di Pundak Raksasa

Saya masih ingat ucapan prakitis bisnis di Entrepreneur University 10 tahun yang lalu, yaitu salah satu cara agar usaha kita cepat meraih sukses, maka berdirilah di pundak "raksasa". Apa maksudnya? banyak orang berwirausaha namun sangat lambat pertumbuhannya dan bahkan tak jarang akhirnya mati suri dan mati beneran. Agar usaha kita bisa segera bertumbuh dan membesar, maka usaha pemula (startup) yang banyak memiliki keterbatasan sumber daya layaknya seorang kerdil, maka salah satu jalan pintasnya adalah berdampingan dan bekerjasama dengan perusahaan lain yang sudah besar. 


Usaha kecil akan tetap kecil selama kita berpikir dan bertindak layaknya usaha kecil, bekerja sama dan berjalan bersama usaha besar akan  membuat usaha kecil segera bisa membesar dengan sendirinya, tentu setelah melalui proses berpikir, bersikap, dan bertindak layaknya perusahaan besar. Banyak hal yang bisa kita contoh bila kita bekerjasama dengan perusahaan besar, bisa dari contoh-contoh yang terlihat sampai yang tidak terlihat yang tentunya contoh positif untuk pertumbuhan usaha kecil kita. Contoh, kalau dalam dunia usaha sudah lazim ada kerjasama co-branding  (nebeng image) yang memungkinkan usaha kecil bekerja sama dengan usaha besar, maka image usaha kita menjadi ikut besar dengan co-branding dengan usaha besar. Misalnya usaha kita minuman teh tarik model gerobak dengan bahan utama teh merk terkenal, maka kita bisa bekerja sama dengan produsen teh tsb. untuk co-branding dengan memasang iklan atau di banner usaha kita merk dan logo teh tersebut berdampingan dengan merk usaha dagang kita. Dengan demikian merk dagang usaha kita terangkat dengan cepat karena bekerja sama dengan merk yang sudah terlebih dulu terkenal. Itulah maksud berdiri di pundak "raksasa".


Berdiri di Pundak Perguruan Tinggi Raksasa

"Trik" di atas bisa juga diaplikasikan di dunia pendidikan tinggi kita agar perkembangan perguruan tinggi yang bermutu bisa berjalan lebih cepat lagi dengan cara mendorong perguruan tinggi bekerja sama dengan perguruan tinggi lain yang sudah terkenal dan bereputasi baik. Kerja sama bisa dilakukan di bidang apa saja, bisa akademik dan non akademik. Ingat..selalu sandingkan logo perguruan tinggi kita dengan logo perguruan tinggi "raksasa" tersebut agar dampaknya terlihat.

Namun tetap harus dicatat, bahwa proses meneladani dengan mencontoh praktik baik perguruan tinggi "raksasa" tersebut harus dilakukan karena kita tidak ingin perguruan tinggi kita hanya terlihat besar tapi lemah dan pastinya akan menjadi bumerang hanya sekedar nebeng besar. Penyamaan persepsi dari seluruh pimpinan dan pemangku kepentingan perguruan tinggi (utamanya pihak yayasan untuk PT swasta) haruslah dilakukan sebagai prasyarat utama agar pertumbuhan dan gerak "raksasa" baru sesuai dengan ukuran badannya dan tetap lincah sebagaimana seharusnya raksasa normal.

Contoh kecil saja dalam event kemahasiswaan, pecinta alam (mapala) perguruan tinggi kecil bisa berlatih bareng dan mengadakan acara dengan organisasi pecinta alam dari PT raksasa yang sudah terkenal bagus organisasinya. Logo mapala kita dan logo mapala PT raksasa bisa bersanding dan berkibar bersama. Apalagi zaman medsos sekarang, dokumentasi kegiatan bisa cepat menyebar tanpa batas dan lihatlah logo mapala PT kita berkibar bersama dengan logo mapala PT raksasa dan yang terbayang oleh warganet adalah bagusnya mapala PT kita sebagus mapala PT raksasa dan yang terpenting kerja sama ini mengangkat harkat diri para peserta didik mapala kita...membangun jiwa para pemenang!

Pendek kata, kerja sama dengan trik di atas sangat bisa diaplikasikan di berbagai jenis kegiatan perguruan tinggi apalagi kegiatan yang berbau akademik semisal seminar, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Tidak terbayang kalau kerja sama PT kita dengan beberapa PT raksasa...berdiri di atas pundak para raksasa! Maka bersiaplah segera menjelma menjadi raksasa baru!

"Barang siapa berdekatan dengan tukang minyak wangi, maka tanpa belipun kita akan mendapatkan bau harum minyak wanginya".

Selasa, 09 Januari 2018

Kekuatan Do'a Ibu

Mimilih Berjalan di Jalan-Nya

Sebagai seorang pemimpin keluarga, visi misi keluarga saya sejak awal sudah jelas bahwa visi keluarga adalah sukses dunia dan akhirat. Misi saya adalah memastikan bahwa kami sekeluarga dan sampai anak cucu bisa sukses di dunia dan di akhirat.

Ketika usai kelulusan sekolah menengah pertama, kami rencanakan anak pertama saya masuk pesantren modern. Dari segi nilai, hasil UN sangat memuaskan dan bahkan ketika saya daftarkan nilainya di sistem penerimaan siswa baru di SMA daerah Salemba yang terkenal itupun masih masuk. Namun tekad saya untuk memasukkan anak saya ke pesantren sudah bulat, karena alasan satu-satunya adalah dalam rangka mencapai visi keluarga. Di Jakarta sangatlah rawan masalah pergaulan, mungkin kami bisa mengawasinya di rumah namun ketika di luar rumah? masa SMA adalah masa-masa yg rawan karena anak dalam masa remaja dan sedang banyak mencoba dalam rangka menemukan jati diri. Walaupun di SMA juga ada pelajaran agama, namun saya merasakannya masih sebatas kulit-kulitnya dan praktiknya dalam keseharian sebagai faktor terpenting dalam membentuk karakter tidak terjamah.

Di SMA pada umumnya akan banyak kegiatan anak di luar rumah ketika banyak tugas sekolah dan ini rawan disalahgunakan anak-anak. Kami berpikir kalau di pesantren, maka anak-anak berada pada lingkungan yang kondusif dan intensif dalam mempraktikkan ajaran agama yang sudah diperoleh di bangku sekolah. Andaipun banyak kegiatan sekolah, anak hanya berputar-putar kegiatannya tidak jauh dari lingkungan pesantren yang sudah kami yakini sampai saat ini adalah lingkungan terbaik. Anak-anak tidak hanya mendapatkan pendidikan agama namun juga dibekali ilmu-ilmu umum sebagaimana kurikulum di SMA sehingga anak lebih lengkap pengetahuannya.

Namun sekali lagi tidak mudah untuk meyakinkan anak dan istri ketika rencana ini akan dilakukan, bahkan guru-guru SMP dan wali murid kenalan juga rada heran dan bertanya-tanya bahkan mempengaruhi anak saya. Sekali lagi ini adalah masalah pilihan, kami sekeluarga sudah meyakini dan memilih bahwa bersekolah ke pesantren adalah dalam rangka meniti jalan-Nya. Kami percaya Allah tidak akan membiarkan hamba yang berjalan di jalan-Nya akan dalam kesulitan, PASTI akan ditolong, itu keyakinan kami sekeluaga walaupun terkadang gamang dan tugas saya adalah selalu meyakinkan anggota keluaga. Banyak yang sangsi kualitas dan nanti hasilnya, anak saya juga ragu apalagi kalau nanti gagal masuk ke PTN favorit.

Kurangnya kualitas pengajaran ilmu umum sejak awal kami sadari dan kami sampaikan ke anak saya bahwa nanti kekurangan ilmu umum akan ditutupi 2-3 bulan bimbingan belajar di Jakarta sebelum ikut ujian masuk PTN dan ukuran sukses dengan masuk PTN juga saya sampai tidak harus di tahun kelulusan, bisa juga tahun berikut dan setahun bisa diisi dengan bimbel dan kursus-kursus lain seperti TOEFL dan lain-lain. Pendek kata saya harus meyakinkan anak saya agar dengan kesadaran meniti jalan-Nya dan pertologan-Nya pasti datang dari jalan mana saja.

Perjalanan Spiritual

Ketika jalan serasa buntu dan kami rasakan hanya Dia yang bisa menolong, maka untuk kedua kalinya saya mendekati-Nya dengan berkunjung ke baitullah, kami berdua bermunajat memohon diberi kekuatan dan jalan terbaik bagi anak-anak kami.

Bersama dengan 40 orang rombongan, kami mengisi hari-hari dengan ibadah dan berdoa.  Di tempat-tempat mustajab seperti di multazam, hijr ismail, dan roudloh kami berdoa memohon agar anak kami diberi kemampuan dan kemudahan dalam tes masuk perguruan tinggi. Pengalaman menunjukkan bahwa berdoa adalah kekuatan kami ketika semua usaha sudah dijalankan. Dan alhamdulillah selama ini berdoa di tempat-tempat tersebut hasilnya tidak mengecewakan dan terbukti diijabah Allah SWT (baca bergerak adalah sunnatullah).

Doa Seorang ibu

Kami berdua berdoa di tempat yang sama, hanya saja berbeda permohonan dimana anak kami akan kuliah. Saya berdoa agar anak saya bisa menimba ilmu di Yogyakarta dengan harapan bisa mendapatkan pengalaman hidup yang lebih "hidup", mengingat di kota gudeg tsb. bermacam perguruan tinggi berada, kaya budaya, kuliner, dan tempat wisata. Hanya saja istri saya lebih memilih perguruan tinggi yang tidak jauh dari Jakarta agar bisa sering pulang atau dijenguk. Dan...bisa ditebak doa siapa yang lebih didengar dan dikabulkan! doa seorang ibu.

Dan alhamdulillah setelah mengikuti tes demi tes dan gagal, setelah harapan demi harapan menipis, keraguan dan kegalauan menyergap kami, akhirnya pertolongan yang dijanjikan-Nya hadir di kesempatan terakhir ujian mandiri. Janji-Nya PASTI ditepati. Selamat Datang di IPB! sesuai dengan doa ibunya.


Kamis, 04 Januari 2018

Selamat Menyongsong Hidup di Zaman Now

Selamat Tahun Baru 2018

Tahun sudah berganti dan zaman juga sudah berubah kekinian (now). Alquran ribuan tahun yang lalu sudah mengingatkan betapa pentingnya masa atau waktu bahkan Allah bersumpah demi waktu. Barang siapa tidak memperhatikan waktunya untuk beramal saleh maka ia akan merugi. Amal saleh terjemahnya bukan hanya ibadah syar'i namun pada semua perbuatan yang kita lakukan termasuk hablum minannaas dan amaliah lainnya.

Zaman now yang serba mudah dan cepat dengan bantuan teknologi telah merubah semua aspek dan sendi kehidupan anak manusia khususnya pada remaja generasi kini yang disebut generasi milenial. Siapapun yang tidak mau berubah atau status quo entah itu entitas bisnis maupun organisasi bakal tertinggal dan mati. 

Tak ayal lagi zaman now sudah datang, bagi entitas yang sudah bersiap sejak lama kedatangan zaman ini sangat dirindukan dan menjadi berkah tersendiri. Namun tidak bagi sebagian entitas lain yang belum bersiap diri, kehadiran zaman now menjadi momok dan walau akhirnya harus ikut  arus pun dengan persiapan diri yang tergopoh-gopoh.

Beruntung bagi entitas yang masih mau berbenah diri karena kesadarannya, karena masih ada yang hanya terbengong saja melihat kehadiran zaman now ini. Sebuah contoh bahwa perubahan telah memaksa perusahaan taxi di tanah air ikut terpukul dengan hadirnya transportasi online, perusahaan yang awalnya menolak kehadiran tekonologi zaman now dengan demontrasipun akhirnya tersadar bahwa kehendak zaman tidak bisa dihadang dan akhirnya mereka menyadari harus turut dalam arus perubahan dengan berbagi aplikasi dengan perusahaan transportasi online yang ada. Begitulah kehendak zaman, perubahan adalah sunatullah.

Pendidikan Tinggi Zaman Now

Zaman now juga berimbas pada pola pikir dan pola tindak generasi milenial dalam menentukan masa depan mereka terutama pilihan program studinya. Program studi yang menyediakan ruang kreativitas yang luas banyak diburu para generasi ini, dan perguruan tinggi suka atau tidak suka harus mempersiapkan diri untuk menghadapi perubahan ini. Perguruan tinggi yang tidak siap bakal ditinggalkan dan lambat lain akan menjadi museum. Perguruan tinggi yang tidak siap akan terlindas zaman dan mati!

Pembelajaran di perguruan tinggi pun cepat atau lambat akan beradaptasi dengan kemajuan teknologi zaman now, kegiatan belajar dan mengajar tidak lagi harus dengan tatap muka di kelas, teknologi ICT (Information and Communication Technology) akan merubah itu semua dengan video conference layaknya generasi milenial ber-video call dengan teman-temannya. Dan resouces di perguruan tinggipun bisa diakses dan dimanfaatkan bersama oleh siapa saja, darimana saja dan kapan saja. Pendek kata, ruang akan memadat dan waktupun akan memendek seperti teori relativitasnya Einstein.


Bersama dan Berbagi atau Mati

Sebuah kisah yang pernah saya dengar dari sebuah siaran radio beberapa tahun yang lalu dalam perjalanan ke kantor ini bisa dijadikan pelajaran bagaimana cara menghadapai perubahan yang bisa jadi sangat ekstrim dari zaman yang pernah ada.

Di musim dingin yang ekstrim di kutub, musim yang sangat berbeda dari musim dingin sebelum-sebelumnya. Dingin yang ekstrim memaksa berbagai jenis hewan di kutub harus berjuang dari maut termasuk jenis landak kutub ini.

Landak-landak kutub ini hidup di lubang-lubang gua kutub dan karena dingin yang ekstrim akhirnya memaksa mereka harus sampai jauh memasuki lorong terdalam dalam lubang gua dan tetap saja dingin menyergap mereka dan sudah mematikan bangsa landak yang sudah berumur dan sakit. Untuk bertahan hidup, landak-landak terus bergerombol dan berdekatan satu dengan yang lain agar suhu badannya terjaga dan tidak membeku. Landak-landak saling berdekatan agar tetap hidup! namun apa daya, duri-duri di sekujur tubuh landak menyebabkan luka-luka berdarah di antara mereka. Akhinya beberapa landak yang tidak merasa nyaman dan terluka memilih memisahkan diri dan menjauh dari rombongan, dan bisa ditebak! mereka akhirnya mati beku.

Melihat hal ini, bangsa landak berembuk dan bersepakat untuk tetap berkumpul dan berdekatan seerat-eratnya adalah satu-satunya jalan, tidak ada pilihan lain agar mereka tetap hangat dan survive walau bakal ada yang terluka terkena duri landak satu dan landak lainnya. Dan benar saja, sampai musim dingin berakhir bangsa landak inilah yang masih banyak bertahan hidup dan keluar sebagai pemenang dalam seleksi alam yang ekstrim.

Tidak ada satupun orang yang sempurna, sebuah tim tidak dibangun dan diisi oleh orang-orang yang sempurna semua namun dibangun dari orang-orang yang masing-masing memiliki kekurangan. Wajar saja dalam berinteraksi satu sama lain bisa terluka dan melukai, kita tidak usah ragu dan takut berinteraksi dengan orang lain atau kelompok lain. Biarkan semua anggota kelompok berproses alamiah menjadi kuat dan tegar, saling mengisi kekurangan dan saling memberikan kelebihan. Ingat bahwa tujuan besarlah yang harus tetap menyatukan dan menjadi fokus tim.

Menghadapi perubahan zaman now, setiap entitas harus sudah bersiap dan mau bergabung dalam entitas lainnya yang lebih besar bersama-sama dalam menghadapi perubahan ini. Bersama dan Berbagi adalah kunci sukses zaman now.


Minggu, 13 Agustus 2017

Menemukan "clock" SPM Dikti (Part 2)

(lihat Part 1 update)


SPMI sebagai Subsistem

Dalam SPM Dikti, SPMI adalah subsistem di antara subsistem lainnya, yaitu SPME (Sistem Penjaminan Mutu Eksternal) yang dikenal dengan akreditasi yang dilaksanakan oleh BAN-PT (Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi) dan atau LAM (Lembaga Akreditasi Mandiri) serta subsistem Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PD Dikti). Sama halnya dengan sebuah sistem lainnya, satu subsistem dengan lain saling berketergantungan karena masukan dari subsistem satu adalah luaran dari subsistem lainnya, seperti sistem pernafasan kita dengan sistem peredaraan darah tubuh kita, luaran dari sistem pernafasan berupa oksigen mengalir juga dalam sistem peredaran darah diangkut bahkan sampai ke sistem saraf di otak kita.
Pendek kata sistem bekerja karena semua subsistem di dalamnya bersinergi, saling memberi dan saling menerima, satu subsistem dan subsistem lainnya adalah bagian yang tidak terpisahkan yang bekerja dalam satu kendali yang terus menerus bekerja menyelaraskan gerak dan langkah sistem secara keseluruhan.


Clock sebagai Penyelaras Sistem

Clock yang berjalan dalam sistem haruslah clock yang sama, clock yang terhubung ke semua subsistem. Clock dengan frekuensi yang sama untuk men-trigger gerak langkah data dan perintah dalam sebuah sistem, bahkan di beberapa titik dalam sistem, apabila clock yang melemah setelah berjalan jauh dalam sistem diperkuat lagi sehingga bentuk sinyal, kekuatan dan waktu impulse-nya kembali ke bentuk semula persis dengan clock di awal sistem. Mengapa? Karena trigger yang dimengerti sistem adalah trigger yang standar.
Di sinilah peran unit clock ( yang masih kita cari) dalam SPM Dikti harus selalu hadir di SPMI, SPME, dan PD Dikti dengan bentuk data dan perintah yang sama, tidak ambigu apalagi berbeda bentuk. Mengapa? karena akan berakibat mandegnya luaran dan masukan yang saling mengait dalam SPM Dikti. Walhasil luaran sistem yang bernama SPM Dikti, atau katakan sebagai luaran pendidikan tinggi alias mutu tidak bisa ditebak wujudnya dan dirasakan manfaatnya, dan bisa jadi hanya di bungkusnya saja berwujud namun isinya kosong. Apabila SPMI, BAN-PT, dan PD Dikti tidak bersinergi, tidak dalam satu bahasa, tidak satu gerak langkah, tidak dalam satu frekuensi kerja, maka bisa dipastikan luaran pendidikan tinggi akan banyak anomali, tidak sesuai dengan tujuannya. Sinergi ketiga subsistem pendidikan tinggi tersebut bisa disebut fardlu ‘ain ( wajib dilakukan ketiganya) bukan fardlu kifayah (alias wajib umum, kalau satu sudah menjalankan maka lainnya gugur kewajiban).


  
Mutu adalah Kesuaian dengan Tujuan

Apakah baju jas dari bahan mahal dan dijahit di sebuah butik terkenal serta merta kita katakan jasnya bermutu? Ketika saya hanya akan menghadiri sebuah hajatan kecil di pelosok kampung dan memakai jas tersebut, maka mutu jas tersebut jadi “hilang” karena tidak cocok dengan situasi dan tempatnya, bahkan bisa jadi bahan tertawaan tamu yang lain. Andai saya cukup berkemeja batik, maka penampilan saya sudah termasuk bagus dan cocok atau sesuai dengan tempatnya.
Sebuah kampus di daerah dengan potensi alam melimpah, misalnya rumput laut, tiba-tiba membuka program studi animasi atau informatika, bukannya tidak boleh tapi dari segi kemanfaatan maka yang bisa dikatakan adalah kurang bermanfaat karena tidak langsung menyentuh kebutuhan masyarakat dan  tidak ikut menyelesaiakan masalah di daerahnya, misalnya problem-problem terkait pembudidayaan rumput laut seperti masalah pemasaran, perubahan iklim, fabrikasi dan kemasan dan lain-lain. Bisa jagi mungkin hanya karena melihat booming-nya jurusan informatika, maka kampus berharap lulusannya bisa cepat bekerja di bidang teknologi informasi, sementara tenaga dosen dan prasarana tidak layak dan bisa dipastikan lulusan tidak ada kompetitif dengan lulusan kampus lain yang berada di kota-kota besar. Sementara sumberdaya dan tempat praktik yang jelas ada di daerahnya tidak dimanfaatkan, padahal kalau saja dibuka jurusan terkait budidaya rumput laut dan berhasil dengan baik, maka tidak mustahil mahasiswa dari daerah lain bahkan dari negara lain yang tidak memiliki tempat praktik alami akan datang berbondong-bondong ke kampus tersebut.


Feed Back dari Pemangku Kepentingan

Seperti saya sampaikan di awal tulisan (part 1), salah satu yang harus ada dalam sebuah sistem yang baik adalah adanya feed back. Maka luaran pendidikan tinggi, yaitu lulusan yang bermutu perlu ada feed back dari para pemangku kepentingan, misalnya salah satunya adalah dunia industri. Sejauh mana lulusan sebuah peguruan tinggi kompetensinya memenihi kebutuhan penggunanya, maka perlu pihak perguruan tinggi perlu berkomunikasi dengan pihak pengguna (baca industri). Perguruan tinggi bisa meminta masukan apa-apa kekurangan dari para lulusannya dan apa-apa yang perlu diperbaiki dan menanyakan kompetensi atau kemampuan seperti apa yang sekarang dibutuhkan oleh industri agar lulusannya sesuai dengan kebutuhan industri. Perguruan tinggi tidak boleh diam dan merasa sudah memberikan pendidikan yang baik bagi mahasiswanya. Mengapa? Karena kebutuhan industri terus bergerak sesuai dengan kebutuhan manusia modern di zamannya apalagi didorong dengan teknologi informasi. Dunia industri harus adaptif memenuhi kebutuhan manusia di zamannya, begitu juga seharusnya dunia pendidikan tinggi seharusnya juga terus bergerak dan adaptif menghasilkan lulusan yang dapat memenuhi kebutuhan industri. Jika tidak, bisa ditebak lulusan perguruan tinggi akan tidak kompetitif dan kalah bersaing dengan yang lain. Maka pilihan satu-satunya adalah perguruan tinggi bermutu atau mati!

Senin, 31 Juli 2017

Menemukan “clock” SPM Dikti (Part 1)


Black Box
Dalam dunia elektronika kalau kita ingin merancang sebuah sistem elektronik biasanya kita andaikan sistem tsb. sebagai sebuah kotak hitam (black box), karena kita belum tahu seperti apa detail komponen dalam sistem yang akan kita bangun, kita hanya tahu inputnya apa dan output yang diinginkan seperti apa.
Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) sebagai sebuah sistem juga bisa juga kita bayangkan seperti black box di atas untuk menganalisa sejauh mana antara input dan luaran yg diinginkan dengan kenyataannya di lapangan.


Filter
Sebaik apapun sebuah sistem kita rancang bila input yang masuk ke dalam sistem adalah sebarang input maka sistem tidak akan menghasilkan luaran yang kita rencanakan, sistem tidak bisa bekerja optimal dan bisa juga lumpuh. Maka kita butuh filter atau penapis sebelum input masuk ke dalam sistem untuk menapis masukan. Hanya masukan yang sesuai dengan kriteria saja yang bisa masuk dalam sistem agar sistem bekerja optimal dan luarannya sesuai dengan harapan. Civitas akademika yang terlibat dalam business process di perguruan tinggi harus ditapis agar luarannya sesuai dengan perencanaan, mulai dari admisi peserta didik, dosen dan tenaga kependidikan, sampai personil cleaning service dan security...bila perlu penjual makanan di kantinpun harus ditapis untuk menghasilkan luaran yang bermutu di semua lini.



Feedback
Penyimpangan luaran dari yang direncanakan sebenarnya bisa saja terjadi dalam sebuah sistem, bisa karena faktor internal komponen dalam sistem yang kinerjanya menurun seiring waktu atau bisa saja karena faktor eksternal seperti suhu ruangan yang tidak sesuai dengan perencanaan atau juga karena interferensi sistem lain, dll. Untuk mengoreksi penyimpangan luaran dalam sistem maka diperlukan feedback (umpan balik) pada sistem melalui sebuah unit sistem tersendiri di luar SPMI. Feedback akan bekerja menyelaraskan antara luaran nyata  dengan luaran yang diinginkan secara terus menerus sampai tidak ada lagi penyimpangan luaran. Unit feedback harus banyak belanja ide dan belajar menyerap aneka masukan dari luar untuk perbaikan luaran. SPMI harus terus berbenah diri agar luarannya tetap cocok atau sesuai dengan kebutuhan stakeholder, misalnya dunia industri. Perguruan tinggi harus menghasilkan lulusan yang cocok untuk dengan tujuan pendiriannya.



Gain
Setelah sebuah sistem bisa bekerja mandiri, bisa mengoreksi penyimpangan dan bisa menghasilkan luaran yang direncanakan, maka terkadang kita juga menginginkan agar sistem semakin menghasilkan daya yang lebih besar, luaran bisa dibesarkan sesuai dengan kebutuhan. Gain atau penguatan perlu dipasang dalam unit feedback, gain dirancang adjustable, bisa diatur sekehendak kita bisa 2x, 3x dst. Ketika visi misi peguruan tinggi berubah, SPMI harusnya bisa disetel agar luarannya mudah diatur seiring dan sejalan dengan perubahan. Semuanya akan jadi mudah kalau setiap langkah sudah ada standarnya. Mau naik 2x lipat outputnya, maka semua perangkat input dan langkah sesudahnya bisa dengan mudah disesuaikan. SPMI yang adaptif!




Clock
Sistem hanya sebatas sistem belaka, tidak akan bisa bekerja tanpa adanya “clock” dalam sistem. Clock layaknya seperti detak jantung yang menghidupkan sebuah sistem. Clock-lah yang men-trigger keseluruhan gerak sistem, nafasnya sebuah sistem. Clock menggerakkan setiap perintah dan membawa setiap data yang akan dieksekusi dalam sebuah sistem yang berbasis hitungan dan data. No Clock No Life!


SPMI layaknya sebuah sistem “black box”, kita perlu tahu apakah sudah dilengkapi dengan filter, feedback, gain dan clock? Andai tidak ada filter, feed back, dan gain masihlah bisa dikatakan sebagai sebuah sistem, namun kalau tidak ada clock-nya alias tidak ada detak jantungnya, maka layak sistemnya disebut sebagai zombie, tidak ada kehidupan di SPMI.

Alhasil SPMI di lapangan seperti mayat hidup, inputnya tidak jelas dan akhinrnya luaran SPMI tidak seperti yang diharapakan bahkan ditengarai ada anomali dan penyimpangan.

Clock juga bisa diartikan ruh, SPMI bukan saja kehilangan ruhnya tapi tanpa ruh sejak awal konsepnya. Kalau begitu, apa dan dimana ruh SPMI? Kalau dalam sistem elektronika, clock dihasilkan oleh sebuah komponen Xtal (baca Kristal) yang mengenerate “detak” dalam satuan seperdetik hertz, detak disambungkan dengan “jantung” sistem, misalnya Central Processing Unit (CPU) dalam rangkaian sistem microcomputer atau sejenisnya dan juga disambungkan dengan komponen aktifnya lain agar terjadi sinkronisasi “gerak” dalam mengeksekusi rangkaian perintah dan aliran data, seperti memori (RAM dan ROM) dan perangkat input-output sistem (PPI dan atau PIO).



Lalu manakah clock dimaksud dalam SPMI? Mana ruh SPMI? Siapa?





tunggu lanjutannya part 2....

Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) sebagai “Jalan Lurus”

Jalan Berliku
Memperkenalkan SPMI sebagai sebuah sistem penjaminan mutu internal di perguruan tinggi tidaklah mudah di kala banyak perguruan tinggi yang kadung berjalan dengan standar mereka sendiri atau standar dari luar negeri seperti ISO. Berbagai pertanyaan yang belum terjawab dan kesimpang-siuran informasi kerap membuat perguruan tinggi galau dan merasa tidak ada jalan keluar, di satu sisi ingin memenuhi aturan pemerintah sesuai UU Dikti sementara di sisi lain business process di perguruan tinggi sudah berjalan dengan standar yang sudah ada. Apalagi kalau sudah menyangkut akreditasi, perguruan tinggi selama ini lebih pragmatis lagi, memilih jalan pintas dengan pelatihan pengisian “borang” akreditasi hanya saat akan melakukan re-akreditasi dengan aneka jalan pintasnya, setelah itu perguruan tinggi “tidur” sampai waktunya mau akreditasi lagi.


Dimana Ada Kemauan Pasti Ada Jalan
Sesungguhnya perguruan tinggi tidaklah perlu bingung mengimplementasikan SPMI sementara perguruan tinggi sudah memiliki standar seperti ISO atau standar dari BAN-PT atau standard lainnya, perguruan tinggi tinggal menjadikan SN Dikti sebagai standar minimal dan ditambah dengan standar yang lain yang dibutuhkan sesuai dengan visi misi perguruan tinggi masing-masing. Standar baru inilah yang selanjutnya ditetapkan dan digunakan perguruan tinggi yang dikenal sebagai Standar Dikti yang ditetapkan perguruan tinggi (sebut saja standar internal). Nah, SPMI sebagai sebuah sistem penjaminan mutu internal mempergunakan standar internal ini dalam menjalankan siklus hidupnya, P(enetapan)P(elaksanaan)E(valuasi)P(engendalian)P(eningkatan). Tidaklah sulit, namun di lapangan masih banyak kebingungan terkait macam-macam standar yang ada, apalagi kalau melihat perbedaan standar yang dipakai waktu akreditasi. “Kami bingung, pakai standar yang mana?”, kalimat ini yang sering terdengar saat diseminasi ataupun pelatihan SPMI.



SPMI = Jalan Lurus Bagi PT
Sebagai sebuah sistem, SPMI layak disebut satu-satunya mazhab penjaminan mutu internal (IQA, internal Quality Assurance) yang seharusnya dianut dan dipergunakan di perguruan tinggi kita. Bagi perguruan tinggi yang sudah mapan seperti UGM, ITB, dan lainnya, SPMI sebagai sebuah sistem bisa jadi sudah melebur dan kasat mata karena jaminan mutu sudah melekat dalam aneka aktivitas pergururan tingginya. Bisa jadi bermacam standar digunakan dalam rangka menaikkan mutu perguruan tingginya, apalagi kalau disesuaikan dengan visi misi perguruan tinggi, misalnya menuju world class university. Namun bagi perguruan tinggi yang masih merangkak dan berusaha menemukan jalan menuju budaya mutu, maka SPMI masih perlu diwujudkan dalam bentuk yang maujud, ada bentuk amalannya. Petunjuk-petunjuk di dokumen SPMI mulai dari dokumen kebijakan, dokumen standar, dokumen manual dan bahkan aneka formulir masih sangat diperlukan dalam membimbing perguruan tinggi untuk melewati tahap demi tahap siklus hidup SPMI yaitu PPEPP. Pendek kata ibarat sebuah jalan, SPMI adalah shirathal mustaqim bagi perguruan tinggi agar selamat dan sampai di tujuan sesuai dengan visi misi perguruan tingginya. Jalan lurus agar perguruan tinggi mendapatkan nikmat-nikmat seperti nikmat yang telah direngkuh perguruan tinggi lain dan bukan azab seperti yang ditimpakan pada perguruan tinggi yang hidup segan dan matipun tak mau. (Masluhin Hajaz, Kasi Revitalisasi Program, Penjamu- Belmawa)

Senin, 13 Juni 2016

Syukur Nikmat dengan Berbagi

Bulan Ramadhan 1347 H ( 2016) adalah saat yang tepat untuk merefleksi diri atau muhasabah, berhitung-hitung betapa terlalu banyak nikmat Allah SWT yang kita terima, sampai-sampai malu rasanya kalau kita berbuat yang tidak merefleksikan rasa syukur kita.

Berbagi
Menikmati indahnya puasa serasa hambar jika kita hanya asik sendiri dalam puasa kita, sementara terlalu banyak saudara seiman dalam kesusahan hidup. Salah satu cara bersyukur atas segala kelebihan nikmat Allah adalah dengan berbagi alias sedekah. Banyak yang bisa kita sedekahkan atas nama syukur, bukan hanya makanan dan minuman untuk berbuka puasa namun juga memberikan solusi mendasar untuk mengangkat kehidupan mereka dengan memberikan kail.

Manusia Bermanfaat
Sebaik-baik manusia adalah yang paling memberi manfaat untuk manusia yang lain. Alhamdulillah Allah memberikan kita akal dan kelebihan ilmu, seyogyanya kita yang berilmu bisa memberikan kemanfaatan lebih kepada yang lain. Malu rasanya kalau hanya bisa bermanfaat bagi diri sendiri dan keluarga, padahal di luar sana terlalu banyak saudara yang kesusahan karena kurangnya ilmu. Memberikan solusi, buah pikiran, ide-ide, gagasan untuk mengangkat harkat dan martabat kehidupan mereka agar kelak mereka bisa menurunkan generasi atau umat yang lebih baik lagi. Pekerjaan yang tidak mudah terutama bagi yang sedang berkarir untuk membagi waktu antara pekerjaan sendiri dan realisasikan gagasan-gagasan untuk kemajuan umat.

Gagasan Berkarya
Salah satu yang bisa menggerakkan ekonomi umat dan bisa menyerap sebanyak mungkin sumber daya umat adalah dengan cara membuat kegiatan usaha berbasis umat dengan memanfaatkan segala potensi dan sumberdaya umat setempat. Mengembangkan kegiatan usaha yang sudah ada atau menumbuhkan usaha yang sama sekali baru. 

Era Online
Siapa saja yang tidak mengikuti perkembangan teknologi akan ditinggalkan dan perlahan namun pasti akan mati. Lihat pabrik dan merek terkenal seperti Brother yang menjual mesin ketik, Kodak yang menjual film kamera, Nokia yang menjual handphone, dan bahkan Blackberry yang tersohor dengan layanan pesan BBM  hilang di pasaran bak ditelan bumi persis seperti dinosaurus yang punah. Mereka punah karena tidak mengantisipasi perubahan zaman. 

Pun sekarang ini, mulai dari ojek online, pesan kendaraaan online, pesan makanan online, pesan jasa macam-macam bisa dilakukan secara online. Bila saja para tukang ojek atau jasa lainnya tidak mengikuti perkembangan teknologi, nasib merekapun akan sama dengan mesin ketik atau dinosaurus, mereka akan punah dan hanya jadi cerita.

Sebuah Ide
Memesan barang secara online khususnya makanan, waktu pengiriman dan masa kadaluarsa adalah faktor penting yang harus diperhatikan, terutama untuk makanan yang dipesan diluar kota yang membutuhkan waktu pengantaran hitungan hari. Agar tepat waktu dan makanan tidak kadaluarwa, pemakaian jasa ekspedisi kilat atau sehari sampai sangatlah mahal bisa dibandingkan dengan harga barang yang dipesan. 

Makanan khas daerah adalah salah satu primadona makanan yg sering dibeli secara online. Makanan khas daerah yang dijual hanya di daerah penghasilnya menjadi faktor penyebabnya. Namun kendalanya adalah masa kadaluwarsa makanan dan faktor mahalnya biaya ekspedisi kalau dikirim secara kilat.Bisa dikirim cepat namun dengan biaya pengiriman yang tinggi.

Pokok pemikirannya adalah bagaimana agar makanan bisa memiliki masa kadaluwarsa yang lama sehingga bisa dikirim dengan ekspedisi reguler yang murah. Kebanyakan makanan tradisional dikemas dengan cara sederhana, paling bagus dikemas dalam plastik dan divakum. Namun untuk beberapa jenis makanan khas daerah yang memililiki kekhasan bentuk tidak bisa dikemas dengan plastik vakum.

Agar makanan khas daerah bisa dinikmati antar kota, antar pulau, dan bahkan antar negara, maka teknologi kemasan yang dipakai haruslah bisa membuat makanan tahan lama dan bagus secara estetika. Menikmati makan khas daerah bisa kapan saja dimana saja dengan harga terjangkau dengan cara baru, kesan modern dan higienis. Makananan khas daerah dalam kaleng!. Ayo dimulai...