Jumat, 27 September 2019

Kerja Apa Anak-Anak Kita Nanti?



 Dua puluh tiga juta pekerjaan akan hilang , McKinsey & Company merilis laporan terbarunya mengenai otomasi dan masa depan pekerjaan di Indonesia. Laporan tersebut menyajikan hasil kajian tentang pekerjaan yang bakal hilang, muncul, dan berubah di masa depan.

"Secara global, McKinsey memperkirakan bahwa 60% dari semua pekerjaan, memiliki sekitar 30% aktivitas pekerjaan yang dapat diotomatisasi." Jenis pekerjaan yang rentan digantikan otomasi di antaranya pemrosesan data atau data entry, petugas payrolltransaction processors, hingga operator mesin.

Terkait dengan pernyataan disaat dapat melihat dari terjadinya revolusi industri, revolusi industri pertama atau 1.0 dimulai pada abad ke-18. Hal itu ditandai dengan penemuan mesin uap untuk upaya peningkatkan produktivitas yang bernilai tinggi. Pada revolusi industri kedua atau 2.0 dimulai pada tahun 1900-an. Revolusi industri 2.0 ditandai dengan ditemukannya tenaga listrik, revolusi yang kedua ini terkait dengan teknologi di lini produksi. Kemudian, di era revolusi industri ketiga atau 3.0, saat otomatisasi ( robotic) dilakukan pada tahun 1970 atau 1990-an hingga saat ini karena sebagian negara masih menerapkan industri ini. Pada revolusi industri keempat atau 4.0, efisiensi mesin dan manusia sudah mulai terkonektivitas dengan internet of things.

Ditiap revolusipun terjadi permasalahan yang terkait dengan SDM yang bekerja juga bagaimana produk dapat tercipta dengan waktu yang singkat, human error yang minim dan juga kualitas produk yang diakui. Dan kesemua ini tidak dapat terlepas dari supply and demand dari masyarakat.

Terdapat konsep ABG+C yaitu academy, business, government plus community, dalam setiap perkembangan di industry, keempat dimensi ini saling terkaitkan bila ada yang tertinggal maka akan terjadi penimpangan. Dan penimpangan yang dimaksud disini adalah ketidaksiapan SDM dalam bekerja sehingga mempercepat proses otomatisasi di industry dikarenakan pihak industry lebih mempercayai robot karena melihat dari maintenance yang lebih mudah dan  kualitas dari hasil produksi yang yang seragam. Ataupun industri yang belum siap menerima pekerja dari lulusan tertentu hanya karena belum adanya kebutuhan profesi tersebut.

Diprediksikan di tahun 2030 akan terjadi penggantian pekerja manusia menjadi robot untuk dapat menanggulanginya, bila dilihat dari prediksi tahunnya maka pada tahun tersebut orang- orang yang terdapat di Generi Z dan Alpha lah yang akan memasuki umur produktif.
 Di 2019 terdapat 20 keahlian yang sedang dicari ataupun diminati antara lain :

1.      Cloud Computing
2.      Artificial Intelligence
3.      Analytical Reasoning
4.      People Management
5.      UX Design
6.      MobileApplication Development
7.      Video Production
8.      Sales Leadership
9.      Translation
10.  Audio Production
11.  Natural Language Processing
12.  Scientific Computing
13.  Game Development
14.  Social Media Marketing
15.  Animation
16.  Business Analysis
17.  Journalism
18.  Digital Marketing
19.  Industrial Design
20.  Competitive Strategies

Dengan melihat perkembangan ini dapat diprediksikan program studi yang akan menjadi unggul dan paling dicari di masa depan.

Managing Partner Indonesia and President-Director, McKinsey Indonesia Phillia Wibowo mengatakan "Indonesia perlu fokus meningkatkan pendidikan dan pelatihan kejuruan untuk mengajarkan keterampilan, memberikan keterampilan baru dan meningkatkan keterampilan tenaga kerja untuk era kerja yang baru," Dia bilang keterampilan teknologi akan lebih diminati. Tetapi akan ada juga peningkatan kebutuhan atas keterampilan sosial dan emosional, serta keterampilan kognitif yang lebih tinggi.

Bila dikaitkan dengan pernyataan diatas mengenai Skill, hardskill ataupun Softskill. Pihak yang menyediakan adalah lembaga pendidikan terkhususnya perguruan tinggi dan bila membicarakan tentang skill tertentu yang siap untuk menerapkan adalah pendidikan vokasi. Program Vokasi adalah program pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi yang bertujuan untuk mempersiapkan tenaga yang dapat menetapkan keahlian dan ketrampilan di bidangnya, siap kerja dan mampu bersaing secara global.

Secara umum pendidikan vokasi (program diploma) bertujuan menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan tenaga ahli profesional dalam menerapkan, mengembangkan, dan menyebarluaskan teknologi dan/atau kesenian serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional.

Kamis, 26 September 2019

Menyiapkan Generasi Z

Konon seorang mahaguru di zaman kerajaan nusantara dikirim rajanya ke masa depan (masa sekarang) dalam rangka benchmarking sistem pembelajaran dan mendarat di sebuah perguruan tinggi di Indonesia. Beliau berjalan di lorong kampus dan melihat ruang kelas perkuliahan.

Dalam pengamatannya, beliau heran sekali mengapa di zaman sekarang yang sudah modern didapati kenyataan cara pengajaran yang tidak jauh berbeda dengan cara di zaman kerajaan di masanya. Beliau melihat seseorang berada di posisi terdepan kelas dan menghadap ke sebagian besar orang di ruangan tersebut. Seseorang tersebut berbicara dan sebagian besar orang mendengar dan menulis. Beliau heran sekali karena sama dengan cara beliau memberikan pengajaran kepada murid-muridnya di padepokan. Setelah kembali ke masanya, sang mahaguru melaporkan kepada raja bahwa pengajaran di kerajaan sudah sesuai dengan masa modern jadi tidak perlu dilakukan perubahan apa-apa. Setengah tidak percaya, raja berkerut dahinya dan menanyakan alamat surel rektor yang dikunjungi sang mahaguru...he he he.

Tentu cerita di atas adalah fiktif namun bila dicermati bersama faktanya, maka masih begitulah cara kita mengajar di zaman sekarang dan secara filosofis tidak beda jauh dengan zaman baheula. Materinya memang berbeda namun caranya masih kuno walau sekarang didukung dengan teknologi layar LCD tanpa kapur tulis dan papan tulis namun hakekatnya sama, posisi sentral di guru dan posisi sebagai penerima pengajaran adalah murid. Ada yang menjadi pengantar sumber ilmu dan ada yang menerima ilmu.

Lalu seharusnya seperti apa sistem pendidikan masa mendatang? pendidikan lebih personalized, lebih pada pemenuhan kebutuhan peserta didik. Peserta didik menentukan obyek pembelajarannya dan terlibat dalam merencanakan kurikulum atau package-nya. Bayangkan seperti seseorang ke supermarket dan secara swalayan memilih sendiri bahan-bahan makanan yang hendak dimasak sesuai menu yang direncanakan, begitulah peserta didik di masa mendatang, mereka sudah memiliki rencana mau bekerja di bidang apa dan belajar apa lalu memilih sendiri materi pelajaran atau mata kuliah apa yang perlu diambil dan dipelajari sesuai kebutuhan di tempat pekerjaan.

Di zaman itu sumber ilmu bisa dari mana saja (big data, internet, perpustakaan virtual, alam, dan masyarakat) dan yang belajar bukan hanya murid namun guru juga ikut dalam proses belajar, long life learning, artinya guru secara status sudah tidak nyata alias kabur karena lebih tepatnya sebagai fasilitator. Tempat belajar tidak lagi bersekat kelas seperti sekarang, ruangnya bisa maya dan diakses darimana saja, di tempat kerja, di rumah, di alam dan kapan saja.


Generasi Y
Siapa generasi Z GenZ? generasi yang lahir dalam rentang tahun 1995 sampai dengan tahun 2010 masehi. GenZ adalah generasi setelah GenY, generasi ini peralihan GenY dengan teknologi yang makin berkembang. GenZ beberapa diantaranya adalah keturunan GenX dan GenY. Di antara ciri GenZ adalah suka berkomunikasi sosial melalui jejaring sosial, lebih mandiri dari generasi sebelumnya, terbiasa multitasking dalam beraktifitas, serta kurang berkomunikasi verbal.


Bagaimana menyiapkan GenZ? skill yang dibutuhkan GenZ adalah keterampilan sosial, kompetensi kemudahan berinteraksi dengan bebagai budaya, literasi baru (literasi data, literasi teknologi, dan literasi manusia), dan kemampuan belajar sepanjang hayat dengan mengembangkan kemampuan 4 C (critical thinking, commucation, collaboration, dan creativity) melalui kurikulum adaptif dan fleksibel.

Siapkan diri menyongsong era baru....man jadda wa jada (barang siapa bersungguh-sungguh pasti berhasil).


Sabtu, 07 September 2019

Mengubah Nasib Bangsa: Darimana Memulainya?

Alat tapping kartu

Melihat budaya tertib teratur dan jujur bangsa lain sungguh membuat kagum dan terselip  rasa miris hati ketika dibandingkan dengan budaya bangsa kita. How? Bagaimana tidak. Saya melihat orang  keluar masuk stasiun di Schipol Airport melakukan ‘tapping’ kartu di sebuah alat pembaca kartu seperti di gerbang tol sementara tidak ada palang atau bahan apapun yang menahan orang untuk tidak keluar masuk? dan alat pembaca tersebut tersebar di beberapa titik dan berdiri lebih mirip sandaran tangan saja? rasanya tidak melakukan tappingpun tidak ada ketahuan karena tanpa petugas. Ada lagi, driver taxi ketika kami minta antarkan ke Hotel Best Western Airport malah menunjukkan deretan bis shuttle gratis! mereka tidak memanfaatkan ketidaktahuan kita malah menunjukkan hal yang seharusnya. 

Truk sampah yang bisa mengangkat tempat sampah otomatis
Kesadaran dan kejujuran pada setiap orang adalah kuncinya. Bisa jadi kesadaran membayar tersebut karena tanggung jawab untuk turut memelihara dan membangun kota mereka, bukan sebaliknya malah merusak kotanya. Di kota kita seperti Jakarta, alih-alih turut membangun kota malah yang ada merusak fasilitas yang ada entah saat iseng atau amuk massa karena tim sepak bolanya kalah. Sikap yang tidak bertanggung jawab dan aneh dari warganya.
Tempat sampah yang bersih..tidak ada yang tercecer

Nah inilah PR besar bangsa kita, yaitu membangun sikap mental bangsa kita dan hal tersebut harus dimulai sejak dini. Peran keluarga dan institusi pendidikan dasar dan menengah sangatlah vital dan kunci dalam membangun mental bangsa tersebut.  Pak Presiden Jokowi sudah betul mencanangkan revolusi mental pada periode pertama pemerintahannya, usaha-usaha sudah dimulai hanya saja belum terasa ada hasilnya. Bisa jadi hasilnya akan lama, namun kelihatannya konsep dan pelaksanaannya masih berjalan lambat di lapangan khususnya di sekolah-sekolah dasar menengah atas.

Dalam Al-Qur’an difirmankan bahwa Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sehingga dia mengubah sendiri. Jelas! Bahwa untuk mengubah nasib bangsa kita dengan membangun karakter bangsa seperti bangsa lain tidak ada jalan lain selain kita bangsa ini yang bertekad dan berupaya sungguh menjalankan program perubahan tersebut. Semua komponen bangsa harus sadar dan ikut bertanggung jawab atas suksesnya perubahan tersebut namun tetap saja harus ada instutusi yang menjadi sentral penggerak perubahan yang bertanggung jawab secara institusi dengan didukung oleh seluruh pemangku kepentingan termasuk masyarakat luas. Jadi jelas siapa pelaksana tugas dan tanggung jawabnya.


Dirikanlah Solat


Perjalanan jauh melewati antar kota dan negara di Eropa, entah naik pesawat maupun kereta pastinya akan menabrak waktu-waktu solat kita. Untunglah sebagai musafir diberi kemudahan untuk menjamak dan menqoshor solat kita. Hal lain yang mempermudah keadaan adalah diperbolehkannya tayamum bila keadaanya tidak memungkinkan bersuci dengan air ketika dalam kendaraaan untuk melakukan bersuci secara normal dengan berwudlu.

Rasulullah menganjurkan umatnya mengadakan perjalanan untuk mengenal bangsa dan budaya bangsa lain namun kita haruslah tetap menjalankan kewajiban solat dengan cara yang diringankan atau rukhsoh.  Tak pelak melihat bangsa lain yang lebih maju seperti di Jerman membuat kita kagum, terlihat keteraturan dan kebersihan, belum lagi sikap tanggung jawabnya yang besar melebihi umat islam yang sejak lama menggaungkan kebersihan, keteraturan dan tanggung jawab.

Kebersihan di Jerman bisa dilihat dimana-mana, keteraturan orang dan ketaatan aturan seperti berlalu lintas sangat terlihat di jalan. Ini kita kagumi sementara kita yang memiliki jargon kebersihan bagian dari iman, taat pada pemimpin hampir-hampir mengabaikan ajaran itu semua kalau kita lihat kondisi kota-kota kita.  Masalah tanggunng jawab bisa terlihat ketika seseorang memesan makanan dan ternyata kelebihan, maka tidak ada kata lain dia akan tetap bertanggung jawab untuk menghabiskannya walau butuh waktu. Maka pelajaranya adalah ambillah makanan secukupnya, persis ajaran islam makan dan minumlah secukupnya. Hal lain yaitu setelah makan, maka di restoran manapun peralatan makan dan sisa-sisa makanan dia harus angkat sendiri ke tempat yang tersedia dengan meyisihkan alat makan dan tisu di tempatnya sementara piring dan nampan dipisahkan.

Kekaguman kebaikan bangsa lain dalam bersikap dan bekerja tetap saja nilainya hanya dunia, berbeda dengan umat islam dengan orientasi akhirat. Maka dalam kehidupan keseharian yang bisa terlihat dan bisa membedakan antara muslim dan non muslim hanyalah solat. Muslim wajib mendirikan solat dalam kondisi apapun, di pesawat, di kereta dan lokasi manapun sesibuk apapun ketika waktunya solat maka didirikannya solat.  Solat yang kita dirikan dalam perjalanan hakekatnya adalah ungkapan rasa terima kasih kita atas nikmat kesempatan dan kesehatan bisa melakukan safar. Dengan demikian manfaat safar seperti anjuran Rasulullah dapat kita rasakan.

Menikmati Sebuah Perjalanan


Setelah berkegiatan selama 2 hari di Hannover, yaitu hari Rabu tanggal 4 Septermber di Leibniz University dan hari Kamis, tanggal 5 September 2019 berkunjung di Hochschule University, maka hari Jumat kami berkunjung ke Techniche University Berlin.

Siang hari setelah selesai kegiatan di Hochschule, sekitar pukul 16an siang kami ke Berlin. Perjalanan dari Hannover ke Berlin menggunakan kereta memakan waktu kurang lebih 3 jam berganti kereta di Ulsen dengan biaya 20an/ orang. Kami bertiga memulai dari stasiun sentral di  Hannover via Ulsen baru kemudian ke Berlin.

Tiba di Berlin habis maghrib kamu memesan taxi menuju penginapan yang kami booking online. Kami menginap di hostel agak di luar kota mengingat sulit dan mahalnya hotel di Berlin saat kami datang karena bertepaatan dengan kegiatan lomba lari maraton, kamar yang tersedia minimal €200 kalaupun ada yang di bawah harga terebut lokasinya jauh di luar kota dengan risiko harga taxi yang semakin mahal. Taxi untuk jarak sekitar 7km biayanya sekitar €18. Menginap di hostel memberikan pengalaman tersendiri, walau awalnya kami memesan 3 kamar untuk 3 orang namun kenyataaanya adalah 3 orang dalam satu kamar besar untuk 8 orang. Kami terpaksa berbagi kamar dengan 4 orang lainya dengan ranjang bertingkat untuk 2 orang plus sebuah kamar mandi. Malam itu yang terpenting adalah kami bisa rebahan dan besoknya bisa mandi dan berganti pakaian untuk kegiatan di TU Berlin.

Pagi setelah subuh, kami bersiap ke TU Berlin dan check out. Kami sepakat untuk mencari sarapan di Stasiun Berlin karena lokasinya berada di tengah arah ke kampus TU Berlin dan banyak tersedia konter-konter makanan.  Kami memesan taxi dan segera meluncur ke stasiun. Perjalanan pagi lancar dan tidak sampai 10 menit kami sampai di stasiun dan bergergas masuk mencari konter makanan yang masih sepi dan untunglah sudah ada beberapa kontern yang buka. Kami menuju konter di pojok dan mesesan roti burger dan minum cappuchino walau saya tidak biasa ngopi, biar hangat saja. Setelah sarapan pagi dan mendapatkan akses internet gratis di stasiun Berlin, pukul 8.30 kami berangkat ke kampus dan bertemu dengan Dandy mahasiswa kandidat doktor asal Indonesia yang merupakan narahubung kami dengan Prof. Knut Blind yang kami akan ajak diskusi tentang quality assurance.

Pertemuan dimulai sesuai jadwal pkl.9 dan berakhir pukul 10. Kami dengan ditemani staf kedutaan Indonesia, Alwien pun bergegas ke stasiun Berlin menggunakan mobil rental yang dipesan melalui aplikasi. Uniknya mobil rental ini di parkir di pinggir-pinggir jalan dan ketika kita sudah memesan via aplikasi maka kita bisa menemukan lokasi mobil tersebut dan dengan aplikasi tsb. kita bisa membuka pintu mobil dan langsung bisa dipakai. Pengalaman ini yang belum ada di Indonesia.
Sisa-sisa tembok Berlin

Kami menggunakan mobil rental tersebut berempat berangkat ke  peninggalan tembok Berlin berfoto dan membeli souvenir dan langsung ke stasiun untuk memesan tiket kereta ke Amsterdam. Dan lagi-lagi mobil rentalpun kami tinggal saja di pinggir jalan dan siap dipakai orang lain dengan memesan dari aplikasi. Tiketpun kami pesan untuk keberangkatan pukul 14an dan akan tiba di Amsterdam pukul 21.00 malam. Saya menulis pengalamaan ini dalam perjalanan Berlin – Amsterdam setelah perjalanan sekitar 1.5 jam dari stasiun sentral Berlin.

Kereta berangkat tepat waktu penuh dengan rombongan anak-anak sekolah  yang akan piknik atau kamping akhir pekan di desa dan mungkin sebagian juga pelajar yang pulang kampung ke desa di sekitar kota Berlin. Perjalanan berhenti di beberapa stasiun dan semakin jauh penumpang semakin berkurang, rombongan pelajar yang selama perjalanan berisik sudah tidak ada lagi, satu gerbang paling 10an orang.

Kebun kincir angin modern

Perjalanan ke Amsterdam dengan kereta melewati desa-desa dan kebun jagung. Dalam perjalanan kami melewati kebun angin dengan turbin angin besar-besar yang jumlahnya ratusan berjejer dan bergerak lambat. Turbin angin modern ini dengan putaran baling-balingnya membangkitkan energi listrik. Entah berapa kwh yang dihasilkan setiap kincir angin raksasa tersebut, yang jelas hal ini menyajikan pengalaman bahwa di eropa sudah menerapkan energi yang ramah lingkungan. Sampai jumpa di Amsterdam.




Sang 'Utusan'

Di tengah sepi, dingin, dan lelah, kami coba mengetuk kaca pintu dan memencet bel dan bersuara memanggil namun nihil. Pak Mursid mencoba menelpon nomer yang tertera di tembok hotel dan hanya suara mesin penjawab yang terdengar. Setelah menunggu 30 menit tidak ada respon dari hotel saya memutuskan berjalan ke jalan raya dan mencegat mobil yang lewat untuk mencari tumpangan ke kota, karena taxi yang mengantar kami sudah pergi. 

Lokasi Hotel Diba ada di pinggiran kota dan sepi. Di jalan hanya ada beberapa mobil yang lewat dan tidak melambatkan lajunya. Kami betul-betul hopeless. Namun tiba-tiba dari belakang saya ada anak muda naik sepeda dan saya hentikan. Saya jelaskan problem kami, intinya kalau ada hotel terdekat kami minta diberi arah. Nino, nama anak muda yang masih kelas akhir tingkat sekolah menengah atas ini. Nino mau menemani perjalanan kami dengan berjalan kaki sekitar 1 km ke arah hotel sesuai aplikasi di handphone-nya, karena handphone kami tidak ada koneksi ke internet. Berjalan sekitar 10 menitan kami tiba di sebuah hotel di pojok jalan, namun lagi-lagi kami tidak beruntung, hotel kondisinya sama dengan Diba, sudah tutup. Di tengah malam sepi sekitar pukul 12 malam dan kelelahan perjalanan ditambah jalan kaki 1 km kamipun minta ditelponkan taxi untuk mencari hotel di kota. Nino anak muda ini segera menelpon taxi dan mengatakan taxi akan datang 10 menit lagi dan dia pamit pergi.

Dan benar sekitar 10 menit kami menuggu di depan hotel, taxipun datang. Dan keluarlah driver seorang laki-laki tua bergerak lambat dan…..tidak bisa bahasa inggris! Berbeda jauh dengan Nino yang mudah dan cekatan dan bisa berbahasa inggris. Lemaslah saya…matilah kami. Untung kami punya gambar capture sebuah hotel pilihan saat browsing di aplikasi, capture ini ternyata berguna saat akses internet tidak ada. Sesaat kemudian driver mengisyaratkan tanda mengerti dan kamipun bergegas memasukkan koper dan masuk mobil. Meluncur dengan sangat pelan….kami menyusuri jalan-jalan sepi tidak seorangpun ada di jalan seperti kota mati, tidak seperti di daerah pinggiran kota-kota Indonesia yang ada orang dan warung buka walau tengah malam.

Kamipun sampai kota dan berhenti di depan sebuah hotel, Ibis Budget. Salah satu dari kami, Pak Mursid turun untuk memeriksa pintu hotel yang nampak tutup rapat dan tidak ada resepsionisnya, cemas menunggu di mobil saya melihat Pak Mursid bisa membuka pintu hotel namun hanya di pintu terluar yang bisa dibuka, pintu kedua nampak terkunci. Dari gerakan Pak Mursid menandakan kesulitan membuka pintu membuat saya semakin cemas, waktu sudah menunjukkan pukul 13an malam, rencananya kalau hotel tersebut tutup maka taxi akan kami minta lanjutkan perjalanan mencari hotel lain. Kemudian kami lihat dari kaca, ada petugas yang jaga membukakan pintu. Saya melihat Pak Mursid berbincang dengan petugas di resepsionis, sejurus kemudian Pak Mursid memberikan isyarat ke kami agar masuk. Aha…..alhamdulillah ada kamar tersedia walau hanya 2 kamar. No problem yang penting bisa meletakkan badan dan kepala di kasur! Badan kepala sudah terasa berat efek jet lag perjalanan jauh total 20an jam.

Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, semua atas kehendak-Nya. Bagi kami Nino adalah “utusan”-Nya untuk membantu kami keluar mencari solusi atas kebuntuan keadaan saat itu, Nino diutus untuk lewat di malam sepi dan dingin lewat di depan Hotel Diba dan bertemu saya dan akhirnya mau membantu menemani kami berjalan kaki sambil menuntun sepedanya. Pada akhirnya Nino yang menelpon taxi dan kami akhirnya bisa istirahat malam itu. Utusan kami yang kedua adalah kakek sang driver, karena telah “menyasarkan” ke hotel Ibis Budget padahal yang kami tunjukkan adalah hotel Ibis Hannover! hotel Ibis Hannover ini walau kami capture gambarnya sebenarnya untuk tanggal 3 dan 4 September sudah penuh alias tidak ada kamar. Kami tunjukkan gambar hotel tsb. hanya semata karena agar kami bisa diantar ke kota karena keterbatasan bahasa sang kakek driver. Dan ahlhamdulillah Ibis Budget ini representatif dan murmer dan malah di depan  stasiun sentral dan terminal bis, jadi dekat kemana-mana. Pendek kata semua sudah diatur oleh-Nya. Alhamdulillah.

Pelajarannya adalah pertama untuk menginap di hotel bintang 2 atau 3 sekalipun di luar negeri jangan samakan seperti hotel di Indonesia yang 24 jam ditunggu resepsionisnya walau kita sudah memberi pesan check in terlambat tetap saja nihil, ini pengalaman kedua setelah di Melbourne juga begitu, kami datang sekitar pukul 4 pagi hotel juga tutup tidak ada yang menjaga di resepsionisnya. Untuk kepastian dan amannya pilih hotel yang sudah punya nama dan jaringan internasional.

Pelajaran kedua, kebaikan kita akan dibalas dimana saja dan kapan saja ketika kita membutuhkannya, di saat-saat genting dan yang datang bisa siapa saja, anak muda atau kakek-kakek sekalipun. Maka dimanapun dan kapanpun jangan lewatkan berbuat baik kepada siapapun yang kita temui, bisa anak kecil sampai kakek-kakek, mulai dari OB hotel, tukang sapu, sol sepatu, penjual sapu lidi, ibu-ibu penjual tisu dengan apa saja yang kita miliki kelebihan, bisa makanan atau uang dan bahkan senyum sapa kita. Kebaikan kita tidak akan tertukar, PASTI akan berbalas. Sebaliknya jangan pernah sekali-kali menyakiti orang baik fisik atau kata-kata kita. Karena kita tidak akan pernah tahu balasannya berupa apa, kapan dan dimana….naudzu billahi min dzalik kalau balasannya adalah kemalangan kepada kita.

Siapa menanam benih akan menuainya.





Jumat, 06 September 2019

Willkommen : Sebuah Perjalanan ke Negeri High Tech, Jerman


Setelah lama tidak menulis di blog ini, hari ini ada kesempatan untuk menulis dan berbagi, dan inilah tulisan saya. Enjoy.

Nabi Muhammad SAW menganjurkan umatnya untuk melakukan perjalanan untuk berkenalan dan melihat budaya bangsa lain dan lebih jauh lagi untuk belajar ilmu pengetahuan.  Hari ini adalah hari teristimewa dalam hidup penulis, tepat di hari ulang tahun Allah memberikan nikmat berupa kesempatan melakukan safar ke negara yang terkenal hebat di bidang teknologi, Jerman.

Bersama tim ahli di bidang Quality Assurance kami berangkat ke Jerman untuk berdiskusi dan mempelajari penerapan QA di beberapa kampus di Jerman khususnya dalam menyiapkan SDM unggul pada program 5 tahun ke depan sesuai kebijakan pemerintah yang baru. Harapan besarnya adalah tim memperoleh gambaran QA di Jerman dan bagaimana penerapannya sehingga terbukti Jerman memiliki kampus-kampus yang unggul. Lebih jauh lagi tim bisa mendapatkan masukan berharga bagaimana caranya agar mutu pendidikan tinggi kita bisa shifting dari  kurang bermutu menjadi unggul dengan jumlah PT yang besar, sebaran geografis yang luas serta dengan disparitas mutu yang ada menjadi unggul kuantitas dan mutunya. Pendek kata kita ingin belajar budaya mutu dari negara dengan pendidikan tinggi bermutu unggul.

Tim terdiri atas  Prof. Dr. Hartanto Nugroho (UGM)  sebagai QA Expert  untuk akdemik dan Dr. SP Mursid (Polban) untuk vokasi. Tim berangkat dari Jakarta pukul 9.25 pagi dengan Singapore Airline menuju Hannover via Singapura dan Frankfurt. Saat penulis memulai menulis blog ini kami masih dalam penerbangan Sin- Fra baru memasuki negara India dengan ketinggian 32.000 ft kecepatan 576 mph dan sudah menempuh 2.080 miles.

Rencana kedatangan di Hannover sekitar pukul 22.35 malam hari. Kegiatan hari pertama di Leibniz Universtity pukul 13.00 an waktu setempat. Hari kedua ke Hochschule Universitu siang hari tanggal 5 September. Hari ketiga tanggal 6 September dilanjutkan perjalanan ke kota Berlin untuk berdiskusi dengan TU Berlin setelah solat Jumat.

Sebelum ke TU Berlin, rencanannya kami akan ke Kedutaan Indonesia di Berlin untuk penyelesaian administrasi dan solat Jumat di kedutaan. Hari keempat tanggal 7 September tim kembali ke tanah air.

  
Willkommen!

Setelah menempuh lebih 12 jam perjalanan, pesawat mendarat di Frankfurt Airport. Di bandara masuk pemeriksaan barang bawaan, badan dan barang penumpang diperiksa dengan detektor dengan sangat teliti, badan diperiksa detail dari ujung rambut sampai sepatu satu per satu. Kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan imigrasi dan Alhamdulillah berjalan lancar, jangan lupa disiapkan tiket kembalinya.

Penerbangan selanjutnya beralih pindah terminal untuk penerbangan domestik, perjalanan ke Hannover kurang lebih 30an menit dilayani maskapai Lutfansa dengan pesawat jet jenis Embraer. Perjalanan agak terlambat karena pesawat belum siap. Akhirnya perjalanan ke Hannover mendarat di malam hari sekitar pukul 10.30 di tengah udara dingin.

Kami menggunakan taxi menuju hotel yang kami pesan di situs online, Diba Hotel. Dari bandara sekitar 25 menit perjalanan dengan biaya 50. Namun sayangnya hotel telah tutup rapat dan tidak ada resepsionis yang menjaganya. Jadilah kami bertiga kebingungan di malam yang dingin dan sepi, jalanan hanya ada satu dua mobil yang lewat.

Apa yang akan terjadi? TBC...



Pilih dan Eksplorasi Kekhasanmu


Menembus Batas!

Wahai sekalian perguruan tinngi swasta maupun negeri di Indonesia, jika engkau mampu menembus rekognisi internasional, maka tembuslah. Engkau tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan.

Sebuah kampus komputer di  Yogyakarta menembus rekognisi internasional dengan caranya sendiri tidak melalui akreditasi ataupun sertifikasi internasional, yaitu memilih keunikannya sendiri lalu diexplore habis yang tidak dimiliki kampus lain. Kampus ini tidak mau bersaing dengan kampus lain yang sudah terlebih dulu mapan di kriteria-kriteria yang ada, tidak mau bersaing di red ocean melainkan berenang sendiri di blue ocean yang belum banyak pesaingnya. Ya..bidang teknologi digital khususnya animasi.

Kalau kampus ini bersaing dengan jumlah dosen S3 pasti habis, kalah. Bersaing di hasil penelitian terindeks Scopus pasti habis, kalah. Bersaing di sarana praasarana, habis.  Maka  dicarilah dan pilih kekhasan dan keunggulan kampus ini yang bisa diexplore habis sebagai kekuatan yang tidak tertandingi. Bagaimana tidak, kalau kampus berbicara lulusan yang bekerja dengan gaji sekian, maka kampus ini berbicara sejak mahasiswa sudah harus men-generate income dalam US$. Nilai mahasiswa bisa diambil dari seberapa besar income mahasiswa yang bisa didapatkan. Standar beyond standar, out of the box. Dari sinilah nama kampus ini mendapatkan rekognisi masyarakat luas dan bahkan internasional.

Praktik baik dari kampus tsb. yang lain adalah, kalau kampus lain meneliti dan menulis lalu dikirim ke jurnal terindeks Scopus dan memerlukan biaya, maka sebaliknyadi kampus ini peneliti berkarya dan berbenghasilan dulu baru pengalamannya ditulis di jurnal terindeks Scopus. Tak heran bila walau prodi-prodi di kampus ini masih terakreditasi C namun peminatnya membludak melebihi jumlah mahasiswa prodi di kampus besar yang lain. Ukuran mutu tidak berbicara akreditasi lagi namun sudah pada outcome.

Kampus lain, sebuah  sekolah tinggi bidang perbankan di Surabaya juga sudah mulai mempercepat langkah mereka menuju rekognisi innternasioal dengan merevisi targetnya menembus batas border pertama yang terlihat, mendekatkan target agar lebih jelas terlihat dan membumi. Target muluk-muluk hanya seperti dongeng dan mimpi yang sulit dibayangkan kenyataannya entah kapan akan dicapainya. Kita perlu mendekatkan target agar segenap civitas akademika bersemangat seperti melihat dekatnya pulau harapan dibanding pulau yang jauh tidak terlihat.

Semua perguruan tinggi, negeri maupun swasta, besar ataupun kecil, lama atau baru memilki kesempatan yang sama untuk unggul menembus batas-batas mindset ketidakmampuan dan kekurangan, batas-batas kekurangan yang selalu mengungkung untuk hanya mengeluh dan mengeluh, kalah dan pasrah.

Ayo perguruan tinggi, temukan kekhasanmu sebagai kekuatanmu, eksplore habis keunggulanmu dan engkau akan menang menembus batas.