Sabtu, 07 September 2019

Sang 'Utusan'

Di tengah sepi, dingin, dan lelah, kami coba mengetuk kaca pintu dan memencet bel dan bersuara memanggil namun nihil. Pak Mursid mencoba menelpon nomer yang tertera di tembok hotel dan hanya suara mesin penjawab yang terdengar. Setelah menunggu 30 menit tidak ada respon dari hotel saya memutuskan berjalan ke jalan raya dan mencegat mobil yang lewat untuk mencari tumpangan ke kota, karena taxi yang mengantar kami sudah pergi. 

Lokasi Hotel Diba ada di pinggiran kota dan sepi. Di jalan hanya ada beberapa mobil yang lewat dan tidak melambatkan lajunya. Kami betul-betul hopeless. Namun tiba-tiba dari belakang saya ada anak muda naik sepeda dan saya hentikan. Saya jelaskan problem kami, intinya kalau ada hotel terdekat kami minta diberi arah. Nino, nama anak muda yang masih kelas akhir tingkat sekolah menengah atas ini. Nino mau menemani perjalanan kami dengan berjalan kaki sekitar 1 km ke arah hotel sesuai aplikasi di handphone-nya, karena handphone kami tidak ada koneksi ke internet. Berjalan sekitar 10 menitan kami tiba di sebuah hotel di pojok jalan, namun lagi-lagi kami tidak beruntung, hotel kondisinya sama dengan Diba, sudah tutup. Di tengah malam sepi sekitar pukul 12 malam dan kelelahan perjalanan ditambah jalan kaki 1 km kamipun minta ditelponkan taxi untuk mencari hotel di kota. Nino anak muda ini segera menelpon taxi dan mengatakan taxi akan datang 10 menit lagi dan dia pamit pergi.

Dan benar sekitar 10 menit kami menuggu di depan hotel, taxipun datang. Dan keluarlah driver seorang laki-laki tua bergerak lambat dan…..tidak bisa bahasa inggris! Berbeda jauh dengan Nino yang mudah dan cekatan dan bisa berbahasa inggris. Lemaslah saya…matilah kami. Untung kami punya gambar capture sebuah hotel pilihan saat browsing di aplikasi, capture ini ternyata berguna saat akses internet tidak ada. Sesaat kemudian driver mengisyaratkan tanda mengerti dan kamipun bergegas memasukkan koper dan masuk mobil. Meluncur dengan sangat pelan….kami menyusuri jalan-jalan sepi tidak seorangpun ada di jalan seperti kota mati, tidak seperti di daerah pinggiran kota-kota Indonesia yang ada orang dan warung buka walau tengah malam.

Kamipun sampai kota dan berhenti di depan sebuah hotel, Ibis Budget. Salah satu dari kami, Pak Mursid turun untuk memeriksa pintu hotel yang nampak tutup rapat dan tidak ada resepsionisnya, cemas menunggu di mobil saya melihat Pak Mursid bisa membuka pintu hotel namun hanya di pintu terluar yang bisa dibuka, pintu kedua nampak terkunci. Dari gerakan Pak Mursid menandakan kesulitan membuka pintu membuat saya semakin cemas, waktu sudah menunjukkan pukul 13an malam, rencananya kalau hotel tersebut tutup maka taxi akan kami minta lanjutkan perjalanan mencari hotel lain. Kemudian kami lihat dari kaca, ada petugas yang jaga membukakan pintu. Saya melihat Pak Mursid berbincang dengan petugas di resepsionis, sejurus kemudian Pak Mursid memberikan isyarat ke kami agar masuk. Aha…..alhamdulillah ada kamar tersedia walau hanya 2 kamar. No problem yang penting bisa meletakkan badan dan kepala di kasur! Badan kepala sudah terasa berat efek jet lag perjalanan jauh total 20an jam.

Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, semua atas kehendak-Nya. Bagi kami Nino adalah “utusan”-Nya untuk membantu kami keluar mencari solusi atas kebuntuan keadaan saat itu, Nino diutus untuk lewat di malam sepi dan dingin lewat di depan Hotel Diba dan bertemu saya dan akhirnya mau membantu menemani kami berjalan kaki sambil menuntun sepedanya. Pada akhirnya Nino yang menelpon taxi dan kami akhirnya bisa istirahat malam itu. Utusan kami yang kedua adalah kakek sang driver, karena telah “menyasarkan” ke hotel Ibis Budget padahal yang kami tunjukkan adalah hotel Ibis Hannover! hotel Ibis Hannover ini walau kami capture gambarnya sebenarnya untuk tanggal 3 dan 4 September sudah penuh alias tidak ada kamar. Kami tunjukkan gambar hotel tsb. hanya semata karena agar kami bisa diantar ke kota karena keterbatasan bahasa sang kakek driver. Dan ahlhamdulillah Ibis Budget ini representatif dan murmer dan malah di depan  stasiun sentral dan terminal bis, jadi dekat kemana-mana. Pendek kata semua sudah diatur oleh-Nya. Alhamdulillah.

Pelajarannya adalah pertama untuk menginap di hotel bintang 2 atau 3 sekalipun di luar negeri jangan samakan seperti hotel di Indonesia yang 24 jam ditunggu resepsionisnya walau kita sudah memberi pesan check in terlambat tetap saja nihil, ini pengalaman kedua setelah di Melbourne juga begitu, kami datang sekitar pukul 4 pagi hotel juga tutup tidak ada yang menjaga di resepsionisnya. Untuk kepastian dan amannya pilih hotel yang sudah punya nama dan jaringan internasional.

Pelajaran kedua, kebaikan kita akan dibalas dimana saja dan kapan saja ketika kita membutuhkannya, di saat-saat genting dan yang datang bisa siapa saja, anak muda atau kakek-kakek sekalipun. Maka dimanapun dan kapanpun jangan lewatkan berbuat baik kepada siapapun yang kita temui, bisa anak kecil sampai kakek-kakek, mulai dari OB hotel, tukang sapu, sol sepatu, penjual sapu lidi, ibu-ibu penjual tisu dengan apa saja yang kita miliki kelebihan, bisa makanan atau uang dan bahkan senyum sapa kita. Kebaikan kita tidak akan tertukar, PASTI akan berbalas. Sebaliknya jangan pernah sekali-kali menyakiti orang baik fisik atau kata-kata kita. Karena kita tidak akan pernah tahu balasannya berupa apa, kapan dan dimana….naudzu billahi min dzalik kalau balasannya adalah kemalangan kepada kita.

Siapa menanam benih akan menuainya.





1 komentar:


  1. mari gabung bersama kami di Aj0QQ*c0M
    BONUS CASHBACK 0.3% setiap senin
    BONUS REFERAL 20% seumur hidup.

    BalasHapus