Minggu, 24 April 2022

InnoAI Solusi Cerdas, Bahtera Besar Mimpi Besar

Banyak ide berseliweran selama pandemi COVID-19, banyak mimpi sukses dengan ide-ide tersebut, namun mimpi hanya sebatas mimpi bila tidak diwujudkan! harus bangun dan bergerak mewujudkannya. Dalam mewujudkan mimpi ini, di samping perlu tekad kuat, maka perlu juga "bahtera" untuk mewadahi segenap tekad dan sumber daya untuk berlayar menuju "pulau sukses".


InnoAI Solusi Cerdas

Dan, dalam sebuah perenungan panjang, ketemulah sebuah nama yang merepresentasikan gambaran ide, mimpi, dan kira-kira bidang yang akan digeluti. InnoAI Solusi Cerdas yang menggambarkan semangat inovasi yang dilakukan dengan cerdas sebagai sebuah solusi dalam kehidupan manusia.

Sesuai namanya, InnoAI ini akan berkutat pada bidang hasil inovasi teknologi berbasis pada kecerdasan artifisial (AI) yang diharapkan menjadi solusi cerdas aneka kebutuhan manusia hidup di masa kini dan mendatang. Mengapa berbasis AI? ya ke depan peran manusia untuk pekerjaan-pekerjaan tertentu yang tanpa melibatkan emosi atau perasaan sudah bisa digantikan mesin dengan kecerdasan artifisial, manusia tinggal melakukan pekerjaan-pekerjaan "terhormat" sesuai dengan kodratnya dibekali bukan hanya kecerdasaan "otak" saja namun dengan intuisi  dan imajinasi yang tidak bisa dilakukan oleh mesin atau robot sekalipun dengan AI.

InnoAI sebagai produsen inovasi akan terus berinovasi tanpa henti, terus menghasilkan inovasi-inovasi baru tiada akhir atau infinity sehingga tak heran logo perusahaannya juga didasari dengan simbol infinity, tidak terbatas dan tak terhingga dan bola mata yang selalu mencari dan menemukan inovasi-inovasi baru.


Selamat datang InnoAI Solusi Cerdas, semoga mampu berkiprah di bidang teknologi berbasis AI di tanah air dan global.

Kamis, 21 April 2022

HappyU, Happiness is Yours

Ulang tahun sebagai peristiwa universal

Seorang bocah perempuan kadung senang dijanjikan oleh ayahnya sebuah hadiah boneka dan kue ulang tahun, pada akhirnya karena ayahnya terkena PHK saat pandemi COVID-19 tidak bisa lagi memenuhi janjinya merayakan ulang tahun putrinya. Dan terpaksa sang ayah tidak berani muncul di hari ulang tahun anaknya.

Oleh sang nenek, pada hari ulang tahun si bocah ini disiapkan "kue" ulang tahun dan lilin dengan sederhana. Sebuah lilin ditaruh di atas panci yang dibalikkan menyerupai kue tart dan dua buah pisang diletakkan mengelilingi lilin di atas panci terbalik tadi. Dan hanya dengan cara sesederhana itu saja sang bocah sudah bisa tersenyum bahagia tak terkira. Duh bagaimana rasa bahagia si bocah perempuan ini bila janji ayahnya yang sudah menjadi impiannya berbulan-bulan kalau dapat terwujud nyata? pastinya super bahagia!.

Cerita di atas menggambarkan bahwa tidak semua orang beruntung bisa merayakan hari bahagianya, mungkin jutaan orang di planet bumi kita ini yang tidak beruntung karena berbagai masalah. Ulang tahun hampir dirayakan semua bangsa di bumi ini dari ujung benua Afrika sampai Amerika, dari kutub selatan sampai orang di kutub utara, pendek kata merayakan hari ulang tahun sudah menjadi budaya universal.


Kekuatan netizen

Cerita anak dan nenek yang merayakan ulang tahun dengan cara sederhana di atas akhirnya viral di media sosial, dan setelah ini banyak netizen yang terharu dan mau berbagi dengan mengirimkan hadian dan kue ulang tahun kepada bocah tadi. Momen ulang tahun pun akhirnya bisa dirayakan ulang dengan kue ulang tahun sungguhan dan hadiah sesuai dengan impiannya yaitu sebuah boneka dari netizen.

Apa sih di zaman sekarang yang tidak diwujudkan dengan didukung beramai-ramai? contoh cerita di atas menggambarkan kekuatan netizen bersama-sama mewujudkan impian si bocah saat hari ulang tahunnya. Kekuatan sosial netizen ini kalau bisa dikelola akan menjelma menjadi "jin" yang bisa mengabulkan apa saja permintaan orang, asal dilakukan dengan baik dan benar berdasarkan trust.

Maka tidak heran, sekarang ini bermunculan platform penggalangan dana seperti kitabisa.com atau berbuatbaik.id yang mampu mengelola kekuatan netizen berupa sumbangan/donasi untuk membantu orang-orang yang membutuhkanya, misalnya untuk berobat dan keperluan kemanusiaan yang lain.


HappyU, happiness is yours 

Kebahagiaan milik Anda semua

Nah, terilhami oleh kisah bocah viral ini dan kekuatan netizen yang bisa membantu mewujudkannya, maka timbullah ide menciptakan platform penggalangan dana khusus untuk mewujudkan mimpi orang-orang yang berulang tahun atau meratakan hari bahagia namun tidak sanggup mewujudkannya sendiri, yaitu HappyU sebuahide yang lahir dalam masa pandemi COVID-19 di sela-sela Work From Home (WFH).

HappyU akhirnya terlahir sebagai platform penggalangan dana tersebut. Apakah sama persis denagan cara penggalanan dana yang sudah ada? tentu tidak! HappyU dirancang sebagai platform social-commerce! tidak sepeti platform yang sudah ada yaitu 100%  crowd funding. Apa itu? HappyU selain bermisi sosial dengan cara donasi para member lain atau donatur dikombinasi dengan jurus pemasaran di dunia bisnis/komersial yaitu dengan cara turut mereferesnikan produk merchant anggota HappyU kepada orang lain.

Selain member bisa mendapatkan donasi dari member yang lain atau donatur tetap dan top up dana sendiri dalam bentuk poin, member juga dapat mereferensikan produk merchant kepada orang lain, dan bila terjadi transaksi maka member yang mempromosikan akan mendapatkan poin yang dapat digunakan untuk menebus barang impiannya. Makin banyak mereferensikan kepada orang lain dan terjadi transaksi, akan makin banyak poin perolehannya. Bila poin-nya sudah cukup jumlah sesuai jumlah poin yang diinginkannya, maka pada saat hari ulang tahun, barang yang diinginkannya dapat diklaim dan akan dikirim HappyU kepadanya.

Pendek kata, HappyU akan membantu mewujudkan kebahagiaan orang sesuai dengan  impiannya pada saat ulang tahun atau pada peristiwa bahagia yang lain sepertil ulang tahun pernikahan dll. tidak terbatas pada barang, bisa juga paket liburan atau tour keagamaan seperti haji dan umrah atau ziarah keagamaan yang lainnya. Ke depan bisa saja HappyU go internasional dengan mewujudkan kebahagian ulang tahun anak-anak Palestina, Afganistan, dan semua bangsa di planet bumi ini.

HappyU sekarang ini masih dalam pengembangan  (progress 95%) versi aplikasi berbasis web (versi dummy di www.happyu.id) dan mobile apps untuk OS Android. HappyU dalam waktu dekat siap untuk dipresentasikan kepada calon investor potensial agar HappyU langsung bisa "ngegas" sejajar dengan platform startup digital lainnya.

Bismillah, semoga HappyU benar-benar terwujud dan dapat mewujudkan kebahagian orang banyak...Aamiin YRA.


                                                    HappyU mobile apps versi beta 1.0

HIjrah, Mempersiapkan Bahtera Baru


Mulai dari NOL 

Perubahan-perubahan berjalan cepat dan menggilas siapa saja, termasuk saya nantinya. Kemenristek digabung dengan Dikti (Kemdikbud) menjadi Kemenristekdikti (2015-2019), lalu bubar menjadi Kemenristek/BRIN, bubar lagi tinggal hanya BRIN yang merupakan "integrasi" Kemenristek dengan 4 LPNK (BATAN, LIPI, BPPT, dan LAPAN) serta lembaga litbang kementerian lainnya. 

Saya sendiri, saat Kemenristek digabung dengan Dikti (Kemendikbud) ditempatkan di Dikti (selanjutnya disebut Ditjen Belmawa), setelah bubar saya dikembalikan lagi ke Kemenristek/BRIN, setelah tinggal hanya BRIN saya tetap tinggal sampai sekarang ini.

BRIN dengan pegawai lebih dari 10 ribu (dan akan terus tertambah seiring bergabungnya lembaga litbang kementerian) menjadi kapal besar dan masih baru ini bisa saja oleng tidak kuat menampung begitu banyak orang, atau oleng karena diterpang angin badai di lautan "politik" yang akan semakin ganas pada periode berikutnya. Organisasi modern yang diharapkan agile ini berpeluang bubar senasib seperti pendahulunya, entah akan menjadi apa lagi apabila tidak hati-hati mengelola aneka isu yang menerpanya saat ini.

Pendek kata, perubahan-perubahan ini mengombang-ambingkan para pegawainya, termasuk saya, sebentar menjadi kepala bagian, sebentar kemudian menjadi koordinator, lalu dijadikan pejabat fungsional dan menjadi staf pelaksana. Perubahan memang sunnatullah, namun keserampangan caranya menjadikan perubahan ini mengarah pada "dustruktif" dan mengurangi kemanfaatannya, karena melibas tatanan struktural dan sosial dalam organisasi yang berakibat pada munculnya sikap apatis dan "masa bodoh" dan hal ini bukan yang diinginkan dalam perubahan. Perubahan seolah menenggelamkan semua yang ada, personil besertanya mimpi-mimpinya dan semua serasa mulai dari NOL lagi.


Hijrah sebagai Sunnatullah

Sebagai insan terdidik, tentu saja situasi ini menjadikan terbukanya pikiran untuk membuka opsi lain dan mempersiapkan langkah-langkah antisipatif bilamana situasinya tidak membaik dan bahkan akan menenggelamkan diri kita.

Organisasi boleh runtuh dan tenggelam karena tidak kuat menahan bebannya sendiri atau sebab tak mampu menahan topan badai, namun personil yang mawas dan waras tentu harus membuka lebar-lebar opsi untuk "hijrah" atau pindah. Hijrah bukan hal tabu, berhijrah merupakan praktik yang sudah pernah dilakukan Nabi Muhammad SAW dari Mekkah menuju Madinah, ketika kaum muslimin di Mekkah mendapatkan berbagai tekanan dan siksaaan pada awal kenabian. Dan hijrah ini pada akhirnya menjadi tonggak awal kesuksesan dan berkembangnya agama Islam ke seluruh dunia sampai sekarang ini.

Hijrah bisa saja dengan berpindah ke bahtera lain atau kalau mampu membuat bahtera sendiri agar bebas berlayar menuju pulau harapan, karena masa depan keluarga tidak bisa 100% dipercayakan pada organisasi "percobaan" ini.

Kalau sudah waktunya berhijrah, bismillah saja dan bertawakkal.

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ
Fa iza ‘azamta fa tawakkal ‘alallah
“Apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah" (QS 3: 159)

Rabu, 29 Desember 2021

Pandemi Membuka Aneka Kesempatan

Sejak pandemi COVID-19 melanda dunia pada awal tahun 2020 termasuk Indonesia yang terdeteksi pada sekitar Maret 2020, banyak hal terjadi di dunia, mulai dari dampak ekonomi dengan tutupnya banyak perusahaan, tutupnya sentra-sentra ekonomi masyarakat seperti pasar dan mall, tempat-tempat berkumpulnya masyarakat seperti bioskop, tempat karaoke, hotel, dan restoran. Pun tempat-tempat pendidikan mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi juga terdampak, tutup. Tatanan kehidupan sosial masyarakat pun terdampak  seperti dibatasinya atau bahkan dilarangnya pertemuan dan kegiatan masyarakat seperti hajatan pernikahan, sunatan, sampai arisan di RT-RW pun terdampak. Walhasil sektor ekonomi, pendidikan, dan sosial semua terdampak.

Nah mulailah apa yang dulu belum pernah terbayangkan, ekonomi tetap merangkak walau susah payah dengan hadirnyanya layanan serba online, mulai dari pasar online, toko online sampai pada pengantarannya pun bisa dipesan secara online. Pun di dunia pendidikan, pembelajaran online mulai dijalankan mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi, walhasil walaupun pandemi beberapa sentra ekonomi digital dan dunia pendidikan masih bisa berjalan walau belum sempurna namun setidaknya memaksa apa yang selama ini sudah diwacanakan akhirnya menjadi nyata oleh pandemi.

Secara makro, mungkin terlihat semua sektor terdampak dengan melihat angka pertumbuhan ekonomi 2020 Indonesia -2.07% ( BPS) sementara angka pertumbuhan ekonomi global juga berkontraksi sampai -4.9% (WEO, per Juni 2020), namun beberapa sektor ekonomi kreatif terus tumbuh karena ditopang pemanfaatan teknologi digital.

Kita tidak pernah membayangkan petani buah dan sayur bisa langsung memasarkan hasil panennya secara online di berbagai marketplace, ibu-ibu rumah tangga bisa menjual masakan "dapur" sehari-hari melalui aplikasi-aplikasi layanan delivery order seperti GoFood dan Grab, dan pembelinya bisa dari kota bahkan pulau lain. Belum lagi aneka hasil kerajinan skala rumah tangga, produk-produk desain khusus satuan seperti kaos, cangkir, dan banyak ragam lainnya bisa dijual online di berbagai marketplace seperti tokopedia, bukalapak, blibli, shopee, lazada dan lain-lain dengan pembeli bisa dari mancanegara.

Pendek kata, bersamaan kesulitan karena pandemi COVID-19 ada banyak kemudahan atau peluang (QS Al- Insyirah : 5), ada kreatifitas dan jalan-jalan baru yang dulunya tidak pernah ada dan terpikirkan kini menjadi cara baru dan memudahkan transaksi dan akhirnya bisa menggerakkan roda ekonomi, maka tidak heran pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2021 sudah bergerak positif 3.51% pada kuaral ke-3 tahun 2021. Ekonomi global diproyeksikan juga tumbuh positif 5.8%- 5.9%. Pandemi telah membuka aneka peluang usaha dan kesempatan baru, tinggal kita menyikapinya bagaimana, memanfaatkan atau menjadi penonton belaka.

Siapa yang berpikir positif dan kreatif akan mampu menangkap peluang dan mewujudkannya menjadi usaha baru.

Selamat membuka dan memanfaatkan aneka peluang baru!

Minggu, 26 Januari 2020

Berbelanja Kebaikan

Manusia adalah makhluk sempurna, Allah membekali manusia lengkap dengan hardware dan software terbaik. Allah berikan pula manusia tempat tinggal di bumi lengkap dengan segala ragam kebutuhan mulai dari panas matahari, air, udara, bahan tambang, aneka buah-buahan, aneka tumbuhan obat, aneka hewan, dan segala sumber daya lainnya. Pendek kata manusia sejak diturunkan di muka bumi sebagai khalifah tinggal mengelola aneka pemberian Allah tsb. dengan tetap mengabdi sebagai hamba yang baik, beribadah dengan sebaik-baiknya.

Lengkap sudah bekal manusia, kini dengan kemampuan akal budi manusia bisa memenuhi ragam kebutuhan dan bahkan keinginannya. Manusia kini mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya dalam perjalanan hidupnya. Banyak orang mengatakan bahwa kehidupan kita di bumi layaknya seorang musafir dalam perjalanannya ke akhirat. Tentu dalam perjalanan banyak hal terjadi pada kita, perjumpaan dengan beragam orang seperjalanan yang ditakdirkan dalam satu frame waktu dan peran yang bersinggungan dengan kita, seperti dalam sebuah episode drama atau sandirawa. Bukankah kehidupan seperti sebuah sandiwara? sebuah pertemuan peran yang bukan kebetulan namun sudah ada dalam skenario-Nya. Oleh karenanya, keliru kalau seorang pejabat mengatakan kalau dia kebetulan sedang menjabat suatu jabatan, tidak ada yang kebetulan! " dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula)...." (al-An'aam: 59)

Sebagai seorang musafir kita pasti telah dan akan terus singgah di banyak tempat, dari satu tugas ke tugas lainnya. Kita bertemu dengan banyak orang berbeda dari satu tugas ke tugas lainnya. Di saat inilah kita seyogyanya banyak berbuat kebaikan walau hanya memberi sebuah senyuman. Kita beli kebaikan sebanyak-banyaknya dengan bekal yang kita punya, harta yang kita kumpulkan dan ilmu yang kita miliki sebagai mata uang kita. Bahkan kita berikan dan amalkan bekal kita berupa harta dan ilmu sebagai kebaikan kepada orang lain agar dapat dimanfaatkan. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.

Pendek kata kita membeli kebaikan layaknya kita berbelanja. Belanja kebaikan artinya kita beli apa saja kebaikan orang lain dan alam sekitar dan lalu kita berikan pula kebaikan kita kepada orang dan pada alam sekitar. Belanjakan kebaikan kita sampai habis di tempat-tempat yang kita singgahi, begitu pula ketika kita sampai pada tempat singgah yang baru, kumpulkan kebaikan sebanyak-banyaknya dan belanjakan sampai habis pula. Dengan demikian kita akan dapati kebaikan di setiap tempat, tidak ada tempat untuk menebar keburukan karena kita berjalan layaknya magnet kebaikan, dimanapun kebaikan akan melekat kepada kita. 

Hukum tarik menarik mengatakan bahwa yang positif akan menarik yang positif dan sebaliknya. Kalau kita berbuat kebaikan maka hanya kebaikanlah yang akan bersama kita dan sebaliknya kalau kita berbuat buruk makan keburukan akan selalu bersama kita, maka tidak heran aneka kebaikan dan keberuntungan akan selalu bersama orang-orang baik dan sebaliknya keburukan akan menjauh.

Per tanggal 22 Januari 2020, perjalanan hidup saya singgah sebentar di Kemenristek/BRIN sebagai Kepala Bagian Komunikasi Publik. Bismillah...semoga tetap istiqomah berbelanja kebaikan. Kebaikan pasti kembali menjadi kebaikan pada penebarnya, kini nanti atau di akherat kelak. Aamiin YRA.


Bismillah...
Terima kasih PM
                                                 

Jumat, 27 September 2019

Kerja Apa Anak-Anak Kita Nanti?



 Dua puluh tiga juta pekerjaan akan hilang , McKinsey & Company merilis laporan terbarunya mengenai otomasi dan masa depan pekerjaan di Indonesia. Laporan tersebut menyajikan hasil kajian tentang pekerjaan yang bakal hilang, muncul, dan berubah di masa depan.

"Secara global, McKinsey memperkirakan bahwa 60% dari semua pekerjaan, memiliki sekitar 30% aktivitas pekerjaan yang dapat diotomatisasi." Jenis pekerjaan yang rentan digantikan otomasi di antaranya pemrosesan data atau data entry, petugas payroll, transaction processors, hingga operator mesin.

Terkait dengan pernyataan disaat dapat melihat dari terjadinya revolusi industri, revolusi industri pertama atau 1.0 dimulai pada abad ke-18. Hal itu ditandai dengan penemuan mesin uap untuk upaya peningkatkan produktivitas yang bernilai tinggi. Pada revolusi industri kedua atau 2.0 dimulai pada tahun 1900-an. Revolusi industri 2.0 ditandai dengan ditemukannya tenaga listrik, revolusi yang kedua ini terkait dengan teknologi di lini produksi. Kemudian, di era revolusi industri ketiga atau 3.0, saat otomatisasi ( robotic) dilakukan pada tahun 1970 atau 1990-an hingga saat ini karena sebagian negara masih menerapkan industri ini. Pada revolusi industri keempat atau 4.0, efisiensi mesin dan manusia sudah mulai terkonektivitas dengan internet of things.

Ditiap revolusipun terjadi permasalahan yang terkait dengan SDM yang bekerja juga bagaimana produk dapat tercipta dengan waktu yang singkat, human error yang minim dan juga kualitas produk yang diakui. Dan kesemua ini tidak dapat terlepas dari supply and demand dari masyarakat.

Terdapat konsep ABG+C yaitu academy, business, government plus community, dalam setiap perkembangan di industry, keempat dimensi ini saling terkaitkan bila ada yang tertinggal maka akan terjadi penimpangan. Dan penimpangan yang dimaksud disini adalah ketidaksiapan SDM dalam bekerja sehingga mempercepat proses otomatisasi di industry dikarenakan pihak industry lebih mempercayai robot karena melihat dari maintenance yang lebih mudah dan  kualitas dari hasil produksi yang yang seragam. Ataupun industri yang belum siap menerima pekerja dari lulusan tertentu hanya karena belum adanya kebutuhan profesi tersebut.

Diprediksikan di tahun 2030 akan terjadi penggantian pekerja manusia menjadi robot untuk dapat menanggulanginya, bila dilihat dari prediksi tahunnya maka pada tahun tersebut orang- orang yang terdapat di Generi Z dan Alpha lah yang akan memasuki umur produktif.
 Di 2019 terdapat 20 keahlian yang sedang dicari ataupun diminati antara lain :

1.      Cloud Computing
2.      Artificial Intelligence
3.      Analytical Reasoning
4.      People Management
5.      UX Design
6.      MobileApplication Development
7.      Video Production
8.      Sales Leadership
9.      Translation
10.  Audio Production
11.  Natural Language Processing
12.  Scientific Computing
13.  Game Development
14.  Social Media Marketing
15.  Animation
16.  Business Analysis
17.  Journalism
18.  Digital Marketing
19.  Industrial Design
20.  Competitive Strategies

Dengan melihat perkembangan ini dapat diprediksikan program studi yang akan menjadi unggul dan paling dicari di masa depan.

Managing Partner Indonesia and President-Director, McKinsey Indonesia Phillia Wibowo mengatakan "Indonesia perlu fokus meningkatkan pendidikan dan pelatihan kejuruan untuk mengajarkan keterampilan, memberikan keterampilan baru dan meningkatkan keterampilan tenaga kerja untuk era kerja yang baru," Dia bilang keterampilan teknologi akan lebih diminati. Tetapi akan ada juga peningkatan kebutuhan atas keterampilan sosial dan emosional, serta keterampilan kognitif yang lebih tinggi.

Bila dikaitkan dengan pernyataan diatas mengenai Skill, hardskill ataupun Softskill. Pihak yang menyediakan adalah lembaga pendidikan terkhususnya perguruan tinggi dan bila membicarakan tentang skill tertentu yang siap untuk menerapkan adalah pendidikan vokasi. Program Vokasi adalah program pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi yang bertujuan untuk mempersiapkan tenaga yang dapat menetapkan keahlian dan ketrampilan di bidangnya, siap kerja dan mampu bersaing secara global.

Secara umum pendidikan vokasi (program diploma) bertujuan menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan tenaga ahli profesional dalam menerapkan, mengembangkan, dan menyebarluaskan teknologi dan/atau kesenian serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional.

Kamis, 26 September 2019

Menyiapkan Generasi Z

Konon seorang mahaguru di zaman kerajaan nusantara dikirim rajanya ke masa depan (masa sekarang) dalam rangka benchmarking sistem pembelajaran dan mendarat di sebuah perguruan tinggi di Indonesia. Beliau berjalan di lorong kampus dan melihat ruang kelas perkuliahan.

Dalam pengamatannya, beliau heran sekali mengapa di zaman sekarang yang sudah modern didapati kenyataan cara pengajaran yang tidak jauh berbeda dengan cara di zaman kerajaan di masanya. Beliau melihat seseorang berada di posisi terdepan kelas dan menghadap ke sebagian besar orang di ruangan tersebut. Seseorang tersebut berbicara dan sebagian besar orang mendengar dan menulis. Beliau heran sekali karena sama dengan cara beliau memberikan pengajaran kepada murid-muridnya di padepokan. Setelah kembali ke masanya, sang mahaguru melaporkan kepada raja bahwa pengajaran di kerajaan sudah sesuai dengan masa modern jadi tidak perlu dilakukan perubahan apa-apa. Setengah tidak percaya, raja berkerut dahinya dan menanyakan alamat surel rektor yang dikunjungi sang mahaguru...he he he.

Tentu cerita di atas adalah fiktif namun bila dicermati bersama faktanya, maka masih begitulah cara kita mengajar di zaman sekarang dan secara filosofis tidak beda jauh dengan zaman baheula. Materinya memang berbeda namun caranya masih kuno walau sekarang didukung dengan teknologi layar LCD tanpa kapur tulis dan papan tulis namun hakekatnya sama, posisi sentral di guru dan posisi sebagai penerima pengajaran adalah murid. Ada yang menjadi pengantar sumber ilmu dan ada yang menerima ilmu.

Lalu seharusnya seperti apa sistem pendidikan masa mendatang? pendidikan lebih personalized, lebih pada pemenuhan kebutuhan peserta didik. Peserta didik menentukan obyek pembelajarannya dan terlibat dalam merencanakan kurikulum atau package-nya. Bayangkan seperti seseorang ke supermarket dan secara swalayan memilih sendiri bahan-bahan makanan yang hendak dimasak sesuai menu yang direncanakan, begitulah peserta didik di masa mendatang, mereka sudah memiliki rencana mau bekerja di bidang apa dan belajar apa lalu memilih sendiri materi pelajaran atau mata kuliah apa yang perlu diambil dan dipelajari sesuai kebutuhan di tempat pekerjaan.

Di zaman itu sumber ilmu bisa dari mana saja (big data, internet, perpustakaan virtual, alam, dan masyarakat) dan yang belajar bukan hanya murid namun guru juga ikut dalam proses belajar, long life learning, artinya guru secara status sudah tidak nyata alias kabur karena lebih tepatnya sebagai fasilitator. Tempat belajar tidak lagi bersekat kelas seperti sekarang, ruangnya bisa maya dan diakses darimana saja, di tempat kerja, di rumah, di alam dan kapan saja.


Generasi Y
Siapa generasi Z GenZ? generasi yang lahir dalam rentang tahun 1995 sampai dengan tahun 2010 masehi. GenZ adalah generasi setelah GenY, generasi ini peralihan GenY dengan teknologi yang makin berkembang. GenZ beberapa diantaranya adalah keturunan GenX dan GenY. Di antara ciri GenZ adalah suka berkomunikasi sosial melalui jejaring sosial, lebih mandiri dari generasi sebelumnya, terbiasa multitasking dalam beraktifitas, serta kurang berkomunikasi verbal.


Bagaimana menyiapkan GenZ? skill yang dibutuhkan GenZ adalah keterampilan sosial, kompetensi kemudahan berinteraksi dengan bebagai budaya, literasi baru (literasi data, literasi teknologi, dan literasi manusia), dan kemampuan belajar sepanjang hayat dengan mengembangkan kemampuan 4 C (critical thinking, commucation, collaboration, dan creativity) melalui kurikulum adaptif dan fleksibel.

Siapkan diri menyongsong era baru....man jadda wa jada (barang siapa bersungguh-sungguh pasti berhasil).


Sabtu, 07 September 2019

Mengubah Nasib Bangsa: Darimana Memulainya?

Alat tapping kartu

Melihat budaya tertib teratur dan jujur bangsa lain sungguh membuat kagum dan terselip  rasa miris hati ketika dibandingkan dengan budaya bangsa kita. How? Bagaimana tidak. Saya melihat orang  keluar masuk stasiun di Schipol Airport melakukan ‘tapping’ kartu di sebuah alat pembaca kartu seperti di gerbang tol sementara tidak ada palang atau bahan apapun yang menahan orang untuk tidak keluar masuk? dan alat pembaca tersebut tersebar di beberapa titik dan berdiri lebih mirip sandaran tangan saja? rasanya tidak melakukan tappingpun tidak ada ketahuan karena tanpa petugas. Ada lagi, driver taxi ketika kami minta antarkan ke Hotel Best Western Airport malah menunjukkan deretan bis shuttle gratis! mereka tidak memanfaatkan ketidaktahuan kita malah menunjukkan hal yang seharusnya. 

Truk sampah yang bisa mengangkat tempat sampah otomatis
Kesadaran dan kejujuran pada setiap orang adalah kuncinya. Bisa jadi kesadaran membayar tersebut karena tanggung jawab untuk turut memelihara dan membangun kota mereka, bukan sebaliknya malah merusak kotanya. Di kota kita seperti Jakarta, alih-alih turut membangun kota malah yang ada merusak fasilitas yang ada entah saat iseng atau amuk massa karena tim sepak bolanya kalah. Sikap yang tidak bertanggung jawab dan aneh dari warganya.
Tempat sampah yang bersih..tidak ada yang tercecer

Nah inilah PR besar bangsa kita, yaitu membangun sikap mental bangsa kita dan hal tersebut harus dimulai sejak dini. Peran keluarga dan institusi pendidikan dasar dan menengah sangatlah vital dan kunci dalam membangun mental bangsa tersebut.  Pak Presiden Jokowi sudah betul mencanangkan revolusi mental pada periode pertama pemerintahannya, usaha-usaha sudah dimulai hanya saja belum terasa ada hasilnya. Bisa jadi hasilnya akan lama, namun kelihatannya konsep dan pelaksanaannya masih berjalan lambat di lapangan khususnya di sekolah-sekolah dasar menengah atas.

Dalam Al-Qur’an difirmankan bahwa Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sehingga dia mengubah sendiri. Jelas! Bahwa untuk mengubah nasib bangsa kita dengan membangun karakter bangsa seperti bangsa lain tidak ada jalan lain selain kita bangsa ini yang bertekad dan berupaya sungguh menjalankan program perubahan tersebut. Semua komponen bangsa harus sadar dan ikut bertanggung jawab atas suksesnya perubahan tersebut namun tetap saja harus ada instutusi yang menjadi sentral penggerak perubahan yang bertanggung jawab secara institusi dengan didukung oleh seluruh pemangku kepentingan termasuk masyarakat luas. Jadi jelas siapa pelaksana tugas dan tanggung jawabnya.


Dirikanlah Solat


Perjalanan jauh melewati antar kota dan negara di Eropa, entah naik pesawat maupun kereta pastinya akan menabrak waktu-waktu solat kita. Untunglah sebagai musafir diberi kemudahan untuk menjamak dan menqoshor solat kita. Hal lain yang mempermudah keadaan adalah diperbolehkannya tayamum bila keadaanya tidak memungkinkan bersuci dengan air ketika dalam kendaraaan untuk melakukan bersuci secara normal dengan berwudlu.

Rasulullah menganjurkan umatnya mengadakan perjalanan untuk mengenal bangsa dan budaya bangsa lain namun kita haruslah tetap menjalankan kewajiban solat dengan cara yang diringankan atau rukhsoh.  Tak pelak melihat bangsa lain yang lebih maju seperti di Jerman membuat kita kagum, terlihat keteraturan dan kebersihan, belum lagi sikap tanggung jawabnya yang besar melebihi umat islam yang sejak lama menggaungkan kebersihan, keteraturan dan tanggung jawab.

Kebersihan di Jerman bisa dilihat dimana-mana, keteraturan orang dan ketaatan aturan seperti berlalu lintas sangat terlihat di jalan. Ini kita kagumi sementara kita yang memiliki jargon kebersihan bagian dari iman, taat pada pemimpin hampir-hampir mengabaikan ajaran itu semua kalau kita lihat kondisi kota-kota kita.  Masalah tanggunng jawab bisa terlihat ketika seseorang memesan makanan dan ternyata kelebihan, maka tidak ada kata lain dia akan tetap bertanggung jawab untuk menghabiskannya walau butuh waktu. Maka pelajaranya adalah ambillah makanan secukupnya, persis ajaran islam makan dan minumlah secukupnya. Hal lain yaitu setelah makan, maka di restoran manapun peralatan makan dan sisa-sisa makanan dia harus angkat sendiri ke tempat yang tersedia dengan meyisihkan alat makan dan tisu di tempatnya sementara piring dan nampan dipisahkan.

Kekaguman kebaikan bangsa lain dalam bersikap dan bekerja tetap saja nilainya hanya dunia, berbeda dengan umat islam dengan orientasi akhirat. Maka dalam kehidupan keseharian yang bisa terlihat dan bisa membedakan antara muslim dan non muslim hanyalah solat. Muslim wajib mendirikan solat dalam kondisi apapun, di pesawat, di kereta dan lokasi manapun sesibuk apapun ketika waktunya solat maka didirikannya solat.  Solat yang kita dirikan dalam perjalanan hakekatnya adalah ungkapan rasa terima kasih kita atas nikmat kesempatan dan kesehatan bisa melakukan safar. Dengan demikian manfaat safar seperti anjuran Rasulullah dapat kita rasakan.

Menikmati Sebuah Perjalanan


Setelah berkegiatan selama 2 hari di Hannover, yaitu hari Rabu tanggal 4 Septermber di Leibniz University dan hari Kamis, tanggal 5 September 2019 berkunjung di Hochschule University, maka hari Jumat kami berkunjung ke Techniche University Berlin.

Siang hari setelah selesai kegiatan di Hochschule, sekitar pukul 16an siang kami ke Berlin. Perjalanan dari Hannover ke Berlin menggunakan kereta memakan waktu kurang lebih 3 jam berganti kereta di Ulsen dengan biaya €20an/ orang. Kami bertiga memulai dari stasiun sentral di  Hannover via Ulsen baru kemudian ke Berlin.

Tiba di Berlin habis maghrib kamu memesan taxi menuju penginapan yang kami booking online. Kami menginap di hostel agak di luar kota mengingat sulit dan mahalnya hotel di Berlin saat kami datang karena bertepaatan dengan kegiatan lomba lari maraton, kamar yang tersedia minimal €200 kalaupun ada yang di bawah harga terebut lokasinya jauh di luar kota dengan risiko harga taxi yang semakin mahal. Taxi untuk jarak sekitar 7km biayanya sekitar €18. Menginap di hostel memberikan pengalaman tersendiri, walau awalnya kami memesan 3 kamar untuk 3 orang namun kenyataaanya adalah 3 orang dalam satu kamar besar untuk 8 orang. Kami terpaksa berbagi kamar dengan 4 orang lainya dengan ranjang bertingkat untuk 2 orang plus sebuah kamar mandi. Malam itu yang terpenting adalah kami bisa rebahan dan besoknya bisa mandi dan berganti pakaian untuk kegiatan di TU Berlin.

Pagi setelah subuh, kami bersiap ke TU Berlin dan check out. Kami sepakat untuk mencari sarapan di Stasiun Berlin karena lokasinya berada di tengah arah ke kampus TU Berlin dan banyak tersedia konter-konter makanan.  Kami memesan taxi dan segera meluncur ke stasiun. Perjalanan pagi lancar dan tidak sampai 10 menit kami sampai di stasiun dan bergergas masuk mencari konter makanan yang masih sepi dan untunglah sudah ada beberapa kontern yang buka. Kami menuju konter di pojok dan mesesan roti burger dan minum cappuchino walau saya tidak biasa ngopi, biar hangat saja. Setelah sarapan pagi dan mendapatkan akses internet gratis di stasiun Berlin, pukul 8.30 kami berangkat ke kampus dan bertemu dengan Dandy mahasiswa kandidat doktor asal Indonesia yang merupakan narahubung kami dengan Prof. Knut Blind yang kami akan ajak diskusi tentang quality assurance.

Pertemuan dimulai sesuai jadwal pkl.9 dan berakhir pukul 10. Kami dengan ditemani staf kedutaan Indonesia, Alwien pun bergegas ke stasiun Berlin menggunakan mobil rental yang dipesan melalui aplikasi. Uniknya mobil rental ini di parkir di pinggir-pinggir jalan dan ketika kita sudah memesan via aplikasi maka kita bisa menemukan lokasi mobil tersebut dan dengan aplikasi tsb. kita bisa membuka pintu mobil dan langsung bisa dipakai. Pengalaman ini yang belum ada di Indonesia.
Sisa-sisa tembok Berlin

Kami menggunakan mobil rental tersebut berempat berangkat ke  peninggalan tembok Berlin berfoto dan membeli souvenir dan langsung ke stasiun untuk memesan tiket kereta ke Amsterdam. Dan lagi-lagi mobil rentalpun kami tinggal saja di pinggir jalan dan siap dipakai orang lain dengan memesan dari aplikasi. Tiketpun kami pesan untuk keberangkatan pukul 14an dan akan tiba di Amsterdam pukul 21.00 malam. Saya menulis pengalamaan ini dalam perjalanan Berlin – Amsterdam setelah perjalanan sekitar 1.5 jam dari stasiun sentral Berlin.

Kereta berangkat tepat waktu penuh dengan rombongan anak-anak sekolah  yang akan piknik atau kamping akhir pekan di desa dan mungkin sebagian juga pelajar yang pulang kampung ke desa di sekitar kota Berlin. Perjalanan berhenti di beberapa stasiun dan semakin jauh penumpang semakin berkurang, rombongan pelajar yang selama perjalanan berisik sudah tidak ada lagi, satu gerbang paling 10an orang.

Kebun kincir angin modern

Perjalanan ke Amsterdam dengan kereta melewati desa-desa dan kebun jagung. Dalam perjalanan kami melewati kebun angin dengan turbin angin besar-besar yang jumlahnya ratusan berjejer dan bergerak lambat. Turbin angin modern ini dengan putaran baling-balingnya membangkitkan energi listrik. Entah berapa kwh yang dihasilkan setiap kincir angin raksasa tersebut, yang jelas hal ini menyajikan pengalaman bahwa di eropa sudah menerapkan energi yang ramah lingkungan. Sampai jumpa di Amsterdam.




Sang 'Utusan'

Di tengah sepi, dingin, dan lelah, kami coba mengetuk kaca pintu dan memencet bel dan bersuara memanggil namun nihil. Pak Mursid mencoba menelpon nomer yang tertera di tembok hotel dan hanya suara mesin penjawab yang terdengar. Setelah menunggu 30 menit tidak ada respon dari hotel saya memutuskan berjalan ke jalan raya dan mencegat mobil yang lewat untuk mencari tumpangan ke kota, karena taxi yang mengantar kami sudah pergi. 

Lokasi Hotel Diba ada di pinggiran kota dan sepi. Di jalan hanya ada beberapa mobil yang lewat dan tidak melambatkan lajunya. Kami betul-betul hopeless. Namun tiba-tiba dari belakang saya ada anak muda naik sepeda dan saya hentikan. Saya jelaskan problem kami, intinya kalau ada hotel terdekat kami minta diberi arah. Nino, nama anak muda yang masih kelas akhir tingkat sekolah menengah atas ini. Nino mau menemani perjalanan kami dengan berjalan kaki sekitar 1 km ke arah hotel sesuai aplikasi di handphone-nya, karena handphone kami tidak ada koneksi ke internet. Berjalan sekitar 10 menitan kami tiba di sebuah hotel di pojok jalan, namun lagi-lagi kami tidak beruntung, hotel kondisinya sama dengan Diba, sudah tutup. Di tengah malam sepi sekitar pukul 12 malam dan kelelahan perjalanan ditambah jalan kaki 1 km kamipun minta ditelponkan taxi untuk mencari hotel di kota. Nino anak muda ini segera menelpon taxi dan mengatakan taxi akan datang 10 menit lagi dan dia pamit pergi.

Dan benar sekitar 10 menit kami menuggu di depan hotel, taxipun datang. Dan keluarlah driver seorang laki-laki tua bergerak lambat dan…..tidak bisa bahasa inggris! Berbeda jauh dengan Nino yang mudah dan cekatan dan bisa berbahasa inggris. Lemaslah saya…matilah kami. Untung kami punya gambar capture sebuah hotel pilihan saat browsing di aplikasi, capture ini ternyata berguna saat akses internet tidak ada. Sesaat kemudian driver mengisyaratkan tanda mengerti dan kamipun bergegas memasukkan koper dan masuk mobil. Meluncur dengan sangat pelan….kami menyusuri jalan-jalan sepi tidak seorangpun ada di jalan seperti kota mati, tidak seperti di daerah pinggiran kota-kota Indonesia yang ada orang dan warung buka walau tengah malam.

Kamipun sampai kota dan berhenti di depan sebuah hotel, Ibis Budget. Salah satu dari kami, Pak Mursid turun untuk memeriksa pintu hotel yang nampak tutup rapat dan tidak ada resepsionisnya, cemas menunggu di mobil saya melihat Pak Mursid bisa membuka pintu hotel namun hanya di pintu terluar yang bisa dibuka, pintu kedua nampak terkunci. Dari gerakan Pak Mursid menandakan kesulitan membuka pintu membuat saya semakin cemas, waktu sudah menunjukkan pukul 13an malam, rencananya kalau hotel tersebut tutup maka taxi akan kami minta lanjutkan perjalanan mencari hotel lain. Kemudian kami lihat dari kaca, ada petugas yang jaga membukakan pintu. Saya melihat Pak Mursid berbincang dengan petugas di resepsionis, sejurus kemudian Pak Mursid memberikan isyarat ke kami agar masuk. Aha…..alhamdulillah ada kamar tersedia walau hanya 2 kamar. No problem yang penting bisa meletakkan badan dan kepala di kasur! Badan kepala sudah terasa berat efek jet lag perjalanan jauh total 20an jam.

Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, semua atas kehendak-Nya. Bagi kami Nino adalah “utusan”-Nya untuk membantu kami keluar mencari solusi atas kebuntuan keadaan saat itu, Nino diutus untuk lewat di malam sepi dan dingin lewat di depan Hotel Diba dan bertemu saya dan akhirnya mau membantu menemani kami berjalan kaki sambil menuntun sepedanya. Pada akhirnya Nino yang menelpon taxi dan kami akhirnya bisa istirahat malam itu. Utusan kami yang kedua adalah kakek sang driver, karena telah “menyasarkan” ke hotel Ibis Budget padahal yang kami tunjukkan adalah hotel Ibis Hannover! hotel Ibis Hannover ini walau kami capture gambarnya sebenarnya untuk tanggal 3 dan 4 September sudah penuh alias tidak ada kamar. Kami tunjukkan gambar hotel tsb. hanya semata karena agar kami bisa diantar ke kota karena keterbatasan bahasa sang kakek driver. Dan ahlhamdulillah Ibis Budget ini representatif dan murmer dan malah di depan  stasiun sentral dan terminal bis, jadi dekat kemana-mana. Pendek kata semua sudah diatur oleh-Nya. Alhamdulillah.

Pelajarannya adalah pertama untuk menginap di hotel bintang 2 atau 3 sekalipun di luar negeri jangan samakan seperti hotel di Indonesia yang 24 jam ditunggu resepsionisnya walau kita sudah memberi pesan check in terlambat tetap saja nihil, ini pengalaman kedua setelah di Melbourne juga begitu, kami datang sekitar pukul 4 pagi hotel juga tutup tidak ada yang menjaga di resepsionisnya. Untuk kepastian dan amannya pilih hotel yang sudah punya nama dan jaringan internasional.

Pelajaran kedua, kebaikan kita akan dibalas dimana saja dan kapan saja ketika kita membutuhkannya, di saat-saat genting dan yang datang bisa siapa saja, anak muda atau kakek-kakek sekalipun. Maka dimanapun dan kapanpun jangan lewatkan berbuat baik kepada siapapun yang kita temui, bisa anak kecil sampai kakek-kakek, mulai dari OB hotel, tukang sapu, sol sepatu, penjual sapu lidi, ibu-ibu penjual tisu dengan apa saja yang kita miliki kelebihan, bisa makanan atau uang dan bahkan senyum sapa kita. Kebaikan kita tidak akan tertukar, PASTI akan berbalas. Sebaliknya jangan pernah sekali-kali menyakiti orang baik fisik atau kata-kata kita. Karena kita tidak akan pernah tahu balasannya berupa apa, kapan dan dimana….naudzu billahi min dzalik kalau balasannya adalah kemalangan kepada kita.

Siapa menanam benih akan menuainya.





Jumat, 06 September 2019

Willkommen : Sebuah Perjalanan ke Negeri High Tech, Jerman


Setelah lama tidak menulis di blog ini, hari ini ada kesempatan untuk menulis dan berbagi, dan inilah tulisan saya. Enjoy.

Nabi Muhammad SAW menganjurkan umatnya untuk melakukan perjalanan untuk berkenalan dan melihat budaya bangsa lain dan lebih jauh lagi untuk belajar ilmu pengetahuan.  Hari ini adalah hari teristimewa dalam hidup penulis, tepat di hari ulang tahun Allah memberikan nikmat berupa kesempatan melakukan safar ke negara yang terkenal hebat di bidang teknologi, Jerman.

Bersama tim ahli di bidang Quality Assurance kami berangkat ke Jerman untuk berdiskusi dan mempelajari penerapan QA di beberapa kampus di Jerman khususnya dalam menyiapkan SDM unggul pada program 5 tahun ke depan sesuai kebijakan pemerintah yang baru. Harapan besarnya adalah tim memperoleh gambaran QA di Jerman dan bagaimana penerapannya sehingga terbukti Jerman memiliki kampus-kampus yang unggul. Lebih jauh lagi tim bisa mendapatkan masukan berharga bagaimana caranya agar mutu pendidikan tinggi kita bisa shifting dari  kurang bermutu menjadi unggul dengan jumlah PT yang besar, sebaran geografis yang luas serta dengan disparitas mutu yang ada menjadi unggul kuantitas dan mutunya. Pendek kata kita ingin belajar budaya mutu dari negara dengan pendidikan tinggi bermutu unggul.

Tim terdiri atas  Prof. Dr. Hartanto Nugroho (UGM)  sebagai QA Expert  untuk akdemik dan Dr. SP Mursid (Polban) untuk vokasi. Tim berangkat dari Jakarta pukul 9.25 pagi dengan Singapore Airline menuju Hannover via Singapura dan Frankfurt. Saat penulis memulai menulis blog ini kami masih dalam penerbangan Sin- Fra baru memasuki negara India dengan ketinggian 32.000 ft kecepatan 576 mph dan sudah menempuh 2.080 miles.

Rencana kedatangan di Hannover sekitar pukul 22.35 malam hari. Kegiatan hari pertama di Leibniz Universtity pukul 13.00 an waktu setempat. Hari kedua ke Hochschule Universitu siang hari tanggal 5 September. Hari ketiga tanggal 6 September dilanjutkan perjalanan ke kota Berlin untuk berdiskusi dengan TU Berlin setelah solat Jumat.

Sebelum ke TU Berlin, rencanannya kami akan ke Kedutaan Indonesia di Berlin untuk penyelesaian administrasi dan solat Jumat di kedutaan. Hari keempat tanggal 7 September tim kembali ke tanah air.

  
Willkommen!

Setelah menempuh lebih 12 jam perjalanan, pesawat mendarat di Frankfurt Airport. Di bandara masuk pemeriksaan barang bawaan, badan dan barang penumpang diperiksa dengan detektor dengan sangat teliti, badan diperiksa detail dari ujung rambut sampai sepatu satu per satu. Kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan imigrasi dan Alhamdulillah berjalan lancar, jangan lupa disiapkan tiket kembalinya.

Penerbangan selanjutnya beralih pindah terminal untuk penerbangan domestik, perjalanan ke Hannover kurang lebih 30an menit dilayani maskapai Lutfansa dengan pesawat jet jenis Embraer. Perjalanan agak terlambat karena pesawat belum siap. Akhirnya perjalanan ke Hannover mendarat di malam hari sekitar pukul 10.30 di tengah udara dingin.

Kami menggunakan taxi menuju hotel yang kami pesan di situs online, Diba Hotel. Dari bandara sekitar 25 menit perjalanan dengan biaya €50. Namun sayangnya hotel telah tutup rapat dan tidak ada resepsionis yang menjaganya. Jadilah kami bertiga kebingungan di malam yang dingin dan sepi, jalanan hanya ada satu dua mobil yang lewat.

Apa yang akan terjadi? TBC...



Pilih dan Eksplorasi Kekhasanmu


Menembus Batas!

Wahai sekalian perguruan tinngi swasta maupun negeri di Indonesia, jika engkau mampu menembus rekognisi internasional, maka tembuslah. Engkau tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan.

Sebuah kampus komputer di  Yogyakarta menembus rekognisi internasional dengan caranya sendiri tidak melalui akreditasi ataupun sertifikasi internasional, yaitu memilih keunikannya sendiri lalu diexplore habis yang tidak dimiliki kampus lain. Kampus ini tidak mau bersaing dengan kampus lain yang sudah terlebih dulu mapan di kriteria-kriteria yang ada, tidak mau bersaing di red ocean melainkan berenang sendiri di blue ocean yang belum banyak pesaingnya. Ya..bidang teknologi digital khususnya animasi.

Kalau kampus ini bersaing dengan jumlah dosen S3 pasti habis, kalah. Bersaing di hasil penelitian terindeks Scopus pasti habis, kalah. Bersaing di sarana praasarana, habis.  Maka  dicarilah dan pilih kekhasan dan keunggulan kampus ini yang bisa diexplore habis sebagai kekuatan yang tidak tertandingi. Bagaimana tidak, kalau kampus berbicara lulusan yang bekerja dengan gaji sekian, maka kampus ini berbicara sejak mahasiswa sudah harus men-generate income dalam US$. Nilai mahasiswa bisa diambil dari seberapa besar income mahasiswa yang bisa didapatkan. Standar beyond standar, out of the box. Dari sinilah nama kampus ini mendapatkan rekognisi masyarakat luas dan bahkan internasional.

Praktik baik dari kampus tsb. yang lain adalah, kalau kampus lain meneliti dan menulis lalu dikirim ke jurnal terindeks Scopus dan memerlukan biaya, maka sebaliknyadi kampus ini peneliti berkarya dan berbenghasilan dulu baru pengalamannya ditulis di jurnal terindeks Scopus. Tak heran bila walau prodi-prodi di kampus ini masih terakreditasi C namun peminatnya membludak melebihi jumlah mahasiswa prodi di kampus besar yang lain. Ukuran mutu tidak berbicara akreditasi lagi namun sudah pada outcome.

Kampus lain, sebuah  sekolah tinggi bidang perbankan di Surabaya juga sudah mulai mempercepat langkah mereka menuju rekognisi innternasioal dengan merevisi targetnya menembus batas border pertama yang terlihat, mendekatkan target agar lebih jelas terlihat dan membumi. Target muluk-muluk hanya seperti dongeng dan mimpi yang sulit dibayangkan kenyataannya entah kapan akan dicapainya. Kita perlu mendekatkan target agar segenap civitas akademika bersemangat seperti melihat dekatnya pulau harapan dibanding pulau yang jauh tidak terlihat.

Semua perguruan tinggi, negeri maupun swasta, besar ataupun kecil, lama atau baru memilki kesempatan yang sama untuk unggul menembus batas-batas mindset ketidakmampuan dan kekurangan, batas-batas kekurangan yang selalu mengungkung untuk hanya mengeluh dan mengeluh, kalah dan pasrah.

Ayo perguruan tinggi, temukan kekhasanmu sebagai kekuatanmu, eksplore habis keunggulanmu dan engkau akan menang menembus batas.

Sabtu, 17 Maret 2018

Bahtera Nuh AS

                          Ilustrasi Bahtera Nuh A.S.

Bisa jadi, umat manusia punah sama sekali ketika banjir besar melanda bumi. Kita dan aneka hewan yang ada sekarang ini mungkin saja tidak ada di muka bumi jika saja seorang Nuh tidak terbangun dan membangun bahtera besar. Habislah umat manusia, jika saja Nuh terlelap dalam status quo dan tidak memiliki visi yang melampaui masanya. Habislah umat manusia jika saja Nuh goyah keyakinannya dan tidak memiliki kesabaran yang luar biasa atas hinaan dan gangguan umatnya.

Nuh membangun bahtera tidak di dekat pantai melainkan di pucuk gunung, Nuh mendapatkan hinaan dan cibiran dari umatnya dari apa yang dikerjakannya. Sulit tapi memang harus dilakukan, pahit namun harus ditelan untuk sebuah keyakinan. Nuh membangun bahtera tidaklah setahun dua tahun melainkan bertahun-tahun. Nuh bersama pengikutnya kompak bekerja sama, mengorbanan waktu, tenaga, dan pikiran yang sudah pasti menjadi andil besar kesuksesan terwujudnya visi besar tersebut. Singkat cerita bahtera Nuh pun berlayar dengan sukses mengarungi banjir besar dengan membawa pasangan berjenis-jenis binatang dan akhirnya berlabuh di daratan antah berantah. Pengikut dan binatangnya beranak pinak dan menyebar ke penjuru bumi, dan kita adalah anak turunnya. Itulah Nuh AS, visi misi besar dan kerja besar dengan dilandasi keyakinan dan berbaju kesabaran berbuah sukses besar, yaitu tetap berlangsungnya kehidupan manusia dan makhluk di bumi sampai saat ini.

Elon Musk, seorang pebisnis, investor, dan insinyur visioner yang baru-baru ini mengguncang dunia dengan peluncuran  roket Falcon ke angkasa membawa mobil dan sopirnya (Starman). Musk memiliki visi dan misi yang melampau zamannya, yaitu membentuk koloni baru manusia di planet Mars! Visinya jauh ke depan hampir mirip dengan Nuh. Visi misinya tentu didukung dengan kerja keras penuh keyakinan dengan bekal iptek tentunya.  Elon Musk seperti Nuh pada zaman now.

 
Membangun SPMI

Membangun Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) sama halnya dengan membangun bahtera Nuh, kita harus memiliki dan menjiwai visi misi institusi, perlu keyakinan, kerja keras, kerja sama, kesabaran, dan waktu yang tidak sebentar. Mustahil kalau kita hanya hapal visi misi tanpa menghayati artinya dan melaksanakan amanahnya lalu semua secara instan terjadi. Penghayatan visi misi institusi akan memberikan keteguhan niat dan memberi keyakinan sepenuh hati seluruh civitas akademika untuk bergerak bersama mewujudkan mimpi besar bersama-sama seperti  keyakinan Nuh AS dan pengikutnya yang berbuah sukses besar dan kita ikut menikmatinya sekarang ini, yaitu masih adanya umat manusia dan hewan di bumi.

Membangun SPMI tidak seperti membangun Candi Roro Jonggrang yang hanya semalam saja dan berdasarkan nafsu belaka, tanpa visi misi yang mulia dan hanya memerintah orang lain (baca bangsa jin) yang mengerjakannya. Walhasil candinya tidak berwujud sesuai harapan dan pada akhirnya kandas cita-citanya. Kedua kisah di atas sangat bertolak belakang, satunya kisah sukses besar dalam sejarah umat manusia sedangkan satunya adalah kisah kegagalan dalam dongeng sejarah kita.

Kita membangun SPMI memang penuh tantangan, keyakinan segenap civitas akademika yang kuat dipandu visi misi institusi dan kerja sama akan memuluskan jalannya. Ingat, BERSAMA kesulitan ada kemudahan (terjemhan yang benar, bukan sesudah kesulitan ada kemudahan). Kemudahan dan kesulitan seperti keping koin uang logam, ada bersama-sama tergantung cara pandang kita.

Ayo bangun! Membangun SPMI kita. Jadilah Nuh-Nuh zaman now di institusi kita masing-masing.
Sukses adalah sebuah pilihan.